Hasil Peserta Workshop Pengembangan Karir Guru IPS Kota Serang 2012 (3)

ARTIKEL JURNAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa
Terhadap Materi Peta, Atlas, dan Globe
Dengan Menggunakan Metode Inquiri Terbimbing
Dikelas VII C SMPN 18 Kota Serang
Tahun Pelajaran 2011 / 2012

Oleh Kelompok 3
Saprudin
Janawiyah
Iim Maryani
Iif Rif’ah
Sakti Handayani
Moh. Ai

ABSTRAKSI
Penggunaan Metode Inquri Terbimbing dalam pembelajaran IPS dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa di kelas VII C SMPN 18 Kota Serang pada materi Peta, Atlas, dan Globe. Indikatornya adalah nilai rata-rata siswa mencapai 75,16 %, semula ketercapaian pemahaman siswa hanya 56,88 % meningkat menjadi 93,44 % dengan KKM Kompetensi Dasarnya 6,5.
Penerapan metode Inquiri Terbimbing yang digunakan dalam pembelajaran IPS materi Peta, Atlas, dan Globe di kelas VII C SMPN 18 Kota Serang ini masih tetap memerlukan peran aktif dari guru, disamping juga perlu disediakannya buku pegangan yang harus dibaca siswa sebelum proses pembelajaran dimulai untuk membekali siswa tentang konsep-konsep dasar yang harus dipahami.

LATAR BELAKANG
Tujuan dari pembelajaran setidak-tidaknya seorang guru menanamkan tiga domain, yakni, kognitif, afektif dan psikomotor dan ketiga domain itu secara langsung akan tertanam pada setiap siswa yang mengikuti suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, yang paling mendasar di pahami oleh guru adalah melatih siswa untuk berpikir, memecahkan masalah dan menemukan suatu konsep.
Untuk merangsang agar peserta didik aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, digunakanlah media pembelajaran agar pesan yang disampaikan mudah untuk dicerna oleh peserta didik.
Selain digunakannya media pembelajaran, Wahana lain yang digunakan untuk belajar secara aktif salah satunya adalah dengan melakukan diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok dituntut berpartisipasi secara langsung dibalik kekurangan dan kelebihannya dan memungkinkan setiap anggota kelompok untuk menyatakan pendapat / ide mereka untuk menyelesaikan segala kesulitan dan akan mendapatkan pemahaman tentang persoalan yang dihadapi dengan dibantu dengan mengunakan alat bantu / media, sehingga akan terjadi komunikasi diantara anggota-anggota kelompok itu. Oleh Karena itu, perlu adanya suatu metode yang harus diterapkan oleh seorang tenaga pendidik agar dalam menyampaikan pesan / suatu konsep pada kegiatan diskusi kelompok dapat diserap dan dipahami sebaik mungkin oleh peserta didik yaitu dengan menggunakan Metode Inquiri terbimbing (guided Inquiri Approach).

METODE INQUIRI TERBIMBING
Salah satu proses pembelajaran yang berorientasi siswa (student oriented) antara lain adalah model inkuiri. Kata inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata kerja intransitive yang sama artinya dengan to investigate, kemudian kata itu berkembang menjadi kata benda inquiry yang memiliki makna sama dengan investigation (Hornby, 1981). Echols dan Shadly (1986) memberikan batasan terhadap kata to inquire yang berarti menyelidiki kemudian berkembang menjadi kata benda inqury yang berarti penyelidikan.
Kemudian kata inquiry digunakan sebagai istilah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Suchman (1962) yang dikenal dengan model pelatihan inkuiri. Model ini merupakan salah satu bentuk mengajar yang diambil oleh Joice dan Well (1967) dari Suchman. Menurut model ini siswa dituntun pada fenomena penyelidikan yang didasarkan pada konfrontasi intelektual yang dilakukan partisipan aktif dalam penyelidikan ilmiah.
Pendekatan Inkuiri Terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Sedangkan Carin dan Sund berpendapat bahwa pembelajaran model inkuiri mencakup inkuiri induktif terbimbing dan tak terbimbing, inkuiri deduktif, dan pemecahan masalah. Diantara model-model inkuiri yang lebih cocok untuk siswa-siswa pada peringkat pendidikan dasar dan menengah adalah inkuiri induktif terbimbing, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran, pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan. Pada inkuiri induktif terbimbing, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, tetapi guru membuat rencana pembelajaran atau langkah-langkah percobaan.
Siswa melakukan percobaan atau penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep yang telah ditetapkan guru. Memang, di dalam pelaksanaan dan penggunaan model pembelajaran inkuiri akan terlaksana dengan efektif dan efisien, manakala gurunya memahami betul seluk beluk tentang model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuri tidak akan efektif, bila guru tidak mengenal lebih detil bagaimana hakiki dan proses pembelajaran inkuiri tersebut. Oleh karena itu, sangat dituntut kepada guru untuk memahami dan mengenal betul bagaimana langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran ini. Hasil pembelajaran guru akan efektif dan optimal bilamana guru mengenal lebih dalam tentang model pembelajaran ini, dan tentunya model pembelajaran ini akan efektif bila guru secara terus menerus melakukan dalam pembelajaran. Tidak mungkin akan efektif, jika guru hanya sekali-sekali menggunakannya, hasil akan nampak bilamana guru menggunakannya berulang-ulang kali.
Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsepa. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.
Dalam proses belajar mengajar dengan metode inkuiri terbimbing, siswa dituntut untuk menemukan konsep melalui petunjuk-petunjuk seperlunya dari seorang guru. Petunjuk-petunjuk itu pada umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing (Wartono 1999). Selain pertanyaan-pertanyaan, guru juga dapat memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya pada saat siswa akan melakukan percobaan, misalnya penjelasan tentang cara-cara melakukan percobaan.
Metode inkuiri terbimbing biasanya digunakan bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan menggunakan metode inkuiri. Pada tahap permulaan diberikan lebih banyak bimbingan, sedikit demi sedikit bimbingan itu dikurangi seperti yang dikemukakan oleh (Hudoyono 1979) bahwa dalam usaha menemukan suatu konsep siswa memerlukan bimbingan bahkan memerlukan pertolongan guru setapak demi setapak. Siswa memerlukan bantuan untuk mengembangkan kemampuannya memahami pengetahuan baru. Walaupun siswa harus berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan guru tetap diperlukan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 18 Kota Serang. Sebagai Subyek penelitian adalah siswa kelas VII ( Tujuh ) C yang terdiri dari 32 siswa yaitu 14 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Melibatkan 5 orang guru IPS kelas VII sebagai kolaborator. Kelas ini sebagai miniatur dari kondisi trasnsisi budaya antara pedesaan dan perkotaan. Rancangan penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Ressearch ) Penelitian terdiri atas dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 2012, sedangan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2012. Masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan ( planning ), pelaksanaan ( Acting ), pengamatan ( Observating ) dan tindak lanjut ( Reflecting ).
Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model analisis data kualitatif yang mengacu pada model alir (flow model) Miles Huberman (1992) yang meliputi 3 komponen yaitu: 1) mereduksi data, 2) Penyajian data, 3) Penarikan kesimpulan serta verifikasi.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan dengan tujuan untuk memperbaiki dan peningkatan pemahaman siswa. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan teknik analisis Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Kompetensi Dasar (KD) Menggunakan Peta, Atlas, dan Globe untuk mendapatkan informasi keruangan, yaitu 6,5
Instrumen pengumpulan data meliputi : a) Pre tes , b) koesioner / angket, c) Wawancara / interview, d). observasi / pengamatan dan e) dokumentasi. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dengan cara a). Observasi, b). Wawancara, c). Kuesioner dan d). Post Tes.
HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan tindakan-tindakan pada siklus 1, terdapat perubahan, yaitu pemahaman materi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum dilakukan penelitian. Berdasarkan hasil pengamatan siswa, diperoleh rata-rata aktivitas siswa bervariasi berdasarkan aspek yang diamati, dalam pengamatan jelas diperoleh data bahwa siswa masih kurang dalan aspek menjawab. Siswa belum tebiasa dan nampak bingung dalam langkah-langkah pembelajarn koperatif, siswa belum terbiasa untuk bekerjasama, berbagi tanggung jawab dan berbagi informasi,siswa cenderung masih mengandalkan teman-temannya yang pintar.

Tabel : 1. Prosentase Keberhasilan Diskusi Siklus 1
No Aspek Prosentase Keberhasilan
1 Sikap dan Respon 59 % Cukup
2 Pemecahan Masalah 65 % Baik
3 Ketepatan Waktu 72 % Baik
4 Penggunaan Media 65 % Baik

Penggunaan alat bantu / media pembelajaran yang sesuai dengan didukung oleh bimbingan guru mendukung timbulnya keinginan siswa untuk mau dan mampu mencapai tujuan, ternyata terbukti dari hasil siklus pertama ini walaupun perubahan tidak terlalu mencolok hal ini terlihat dari meningkatnya hasil perolehan ulangan siswa setelah proses siklus berakhir. Sebagai pembanding nilai peneliti mengambil nilai pre test dengan nilai post test
Tabel : 2. Rerata Nilai Pre Test dan Post Test pada Siklus Pertama

Pre Test Post Test KKM
4,81 5,88 6,5

Berdasarkan hasil analisis data dan pemantauan ditemukan beberapa aspek keberhasilan, terdapat perubahan, yaitu pemahaman materi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode inquiri terbimbing. Peningkatan pemahaman ini terlihat pada saat kegiatan diskusi kelompok, respon siswa mencapai 59 %, pemecahan masalah 65 % ketepatan waktu 72 % dan penggunaan media pembelajaran mencapai 65 %,
Sedangkan kelemahan-kelemahan yang perlu di rencanakan kembali pada siklus berikutnya, yaitu : (1) pemahaman siswa baru sebesar 59 % berarti belum sesuai dengan indikator penelitian, (2). Pada pembuatan kelompok masih terlihat ramai dan kacau, (3). Aktitivitas siswa dalam menanggapi presentasi masih kurang, masih ada siswa yang tidak mau melibatkan diri dalam diskusi. (4) Pada saat presentase di depan kelas beberapa siswa masih kelihatan canggung, takut dan malu, (5) waktu sebagian besar teralokasikan untuk diskusi sehingga terjadi kekurangan waktu untuk presentasi dan tanggapan.
Pelaksanaan pada siklus 2 pada dasarnya sama dengan siklus 1, hanya pada siklus 2 ini diadakan perubahan-perubahan sesuai kekuarangan dari siklus 1 sehingga diharapkan pada siklus 2 ini terjadi peningkatan baik pemahaman materi mupun hasil belajar siswa.
Rata-rata pemahaman materi siswa dalam pembelajaran pada siklus 2 ada peningkatan ini ditandai dengan adanya : peningkatan keatifan siswa dalam diskusi.

Tabel : 3. Prosentase Keberhasilan Diskusi Siklus 2
No Aspek Prosentase Keberhasilan Taraf Keberhasilan
1 Sikap dan Respon 84 % Sangat Baik
2 Pemecahan Masalah 78 % Baik
3 Ketepatan Waktu 94 % Sangat Baik
4 Penggunaan Media 91 % Sangat Baik

Dari hasil test setelah proses pembelajaran berlangsung, terliat adanyan peningkatan skor dibandingkan dengan siklus ke-1 hal ini terlihat pada rerata pendapatan skor siswa pada akhir siklus ke-2. Untuk lebih jelasnya tersaji pada tabel di bawah ini :

Tabel : 4. Skor Rerata Antara Nilai pada Siklus 1 dan Siklus 2
Kegiatan Tes Siklus 1 Siklus 2 Peningkatan
Pre test 48.13 56,88 8.72
Pos test 52.50 92,81 40.45

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa ada kenaikan rata-rata dari siklus sebelumnya, hal ini memberi informasi bahwa pembelajaran IPS terpadu dengan menggunakan metode inquiri terbimbing akan meningkatkan pemahaman belajar siswa.
Berdasarkan catatan lapangan diperoleh data munculnya beberapa siswa yang memilki kecerdasan linguistik dan kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain.

PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan baik dari kolaborator, angket siswa, hasil monitoring nilai proses siswa dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran metode inquiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman materi belajar IPS. Masalah yang ada pada saat kegiatan pembelajaran IPS yaitu siswa kesulitan menjawab soal-soal dalam menghadapi pelajaran sudah dapat diubah.
Dari hasil pengamatan pada siklus ke-1 proses kerjasama dalam diskusi masih sangat kurang serta keberanian anggota kelompok menjawab pertanyaan yang muncul dalam kegiatan presentasi masih sangat kurang, yang ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan siswa terhadap materi yang di diskusikan.
Kesulitan siswa dalam memecahkan permasalahan yang muncul dalam diskusi yang tidak ditemukan dalam buku paket maupun hand out, hal ini menurut peneliti disebabkan siswa masih kurang dalam minat membaca di perpustakaan maupun di rumah, sehingga bekal pengetahuan umum siswa masih sangat kurang, maka pemahaman materi untuk gemar membaca pada siswa perlu ditingkatkan.
Dari uraian keseluruhan siklus di atas tampak bahwa dengan menggunakan metode inquiri terbimbing dalam pembelajaran IPS untuk metari Peta, Atlas dan Globe di kelas VII C, pamahaman siswa tentang konsep Peta, Atlas dan Globe menjadi meningkat, ini dapat di lihat dari peningkatan nilai rata-rata siswa dan tingkat ketuntasan kelas, dari 52,50 % menjadi 92,81 % meningkatt sebesar 40,45 %.

SIMPULAN
1.Penggunaan metode inquiri terbimbing dalam pembelajaran IPS dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa di kelas VII C SMP Negeri 18 Kota Serang pada materi Peta, Atlas dan Globe, indikatornya adalah nilai rata-rata siswa mencapai 7,51 %, semula dari 5,68 meningkat menjadi 9,34dengan KKM Kompetensi Dasarnya 6.50
2.Langkah operasional yang perlu diperhatikan untuk pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiri Terbimbing adalah :
a.Penggunaan alat bantu, media dan sumber belajar yang sesuai.
b.Menjelaskan tentang langkah-langkah metode Inquiri Terbimbing kepada siswa.
c.Perlu disarankan untuk membaca buku paket atau hand out paling tidak satu minggu sebelum pembelajaran dilaksanakan untuk membekali siswa tentang pengetahuan dasar yang harus dikuasai untuk memecahkan masalah yang ada.
d.Guru tetap diperlukan untuk memberikan konsep-konsep dasar IPS.
e.Perlu pemberian tugas terstruktur bagi siswa setiap selesai pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian tindakan Kelas. Bandung. Irama Widya
Basrowi dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas.. Insan Cendekia
Daryanto, 1997. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. .Surabaya. Apollo.
Sanjaya, Wina. Dr. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Slavin, Robert.E. (2008). Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik. Bandung. PT. Nusa Media
Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. 2006. Model Pembelajaran IPS Sekolah Dasar. Jakarta. Depertemen Pendidikan Nasional.
Kusandar 2007. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Persiapan Menghadapi Sertikasi Guru. Jakarta. Raja Grafindo Perkasa..
Layanan Pusat Kurikulum 2004. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif. Jakarta Departemen Pendidikan Nasional.
Mulyasa, E 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung Rosda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s