Dimensi Pendidikan IPS

By : Deni Sopari

Pencapaian pendidikan IPS di persekolahan diperlukan pemahaman dan pe ngembangan program pendidikan yang komprehensip. Program pendidikan IPS yang komprehensif menurut Sapriya ( 2009 : 48-56 ),
yaitu program yang mencakup empat dimensi, yaitu :

a.Dimensi Pengetahuan ( Knowledge ).
Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide. Tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisiknya dan dunia sosial. Dimensi yang menyangkut pengetahuan sosial mencakup: (1) fakta; (2) konsep; dan (3) generalisasi yang dipahami siswa.
b.Dimensi keterampilan ( Skill ).
Keterampilan adalah pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. Keterampilan ini dalam IPS terwujud dalam bentuk kecakapan mengolah dan menerapkan informasi yang penting untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang mampu berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Keterampilan tersebut mencakup: Keterampilan meneliti, keterampilan berpikir, keterampilan partisipasi sosial dan keterampilan berkomunikasi.
c.Dimensi nilai dan sikap ( value and attitude )
Merupakan seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang terungkap ketika berpikir dan bertindak. Nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dianggap penting dengan tindakan yang tepat. Sedangkan sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinan-keyakinan,interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu.
d.Dimensi tindakan ( Action )
Tindakan sosial ini merupakan dimensi IPS yang penting karena tindakan sosial dapat memungkinkan siswa menjadi peserta didik yang aktif, dengan jalan ; berlatih secara kongkret dan praktik, belajar dari apa yang diketahui dan dipikirkan tentang isu-isu sosial untuk dipecahkan sehingga jelas apa yang dilakukan dan bagaimana caranya dengan demikian siswa akan belajar menjadi warga negara yang efektif di masyarakat.

Sehubungan dengan keempat dimensi pendidikan IPS menurut Kenworthy ( Depenas, 2007: 14 ) terdapat tiga karakteristik tujuan IPS, yaitu : Pendidikan kemanusiaan, kewarganegaraan dan intelektual. Pendidikan kemanusiaan memiliki arti bahwa IPS harus membantu anak memahami pengalamannya dan menemukan arti atau makna dalam kehidupannya. Dalam tujuan pertama ini terkandung unsur pendidikan nilai. Pendidikan kewarganegaraan mengandung arti bahwa siswa harus dipersiapkan untuk berpartisipasi secara efektif dalam dinamika kehidupan masyarakat. Siswa memiliki kesadaran untuk meningkatkan prestasinya sebagai bentuk tanggung jawab warga negara yang setia pada negara. Pendidikan nilai dalam tujuan ini lebih ditekankan pada kewarganegaraan. Pendidikan intelektual mengandung arti bahwa anak membutuhkan untuk memperoleh ide-ide yang analitis dan alat-alat untuk memecahkan masalah yang dikembangkan dari konsep-konsep ilmu sosial. Dalam memecahkan masalah anak akan dihadapkan pada upaya mengambil keputusan sendiri.

Hal senada diungkapkan juga oleh Hasan ( 1996:98 ) bahwa tujuan pendidikan ilmu-ilmu sosial dikelompokan dalam tiga kategori, yaitu ; pengembangan kemampuan intelektual siswa, pengembangan kemampuan dan rasa tanggungjawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri peserta didik sebagai individu.
Tidak jauh berbeda dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi disebutkan bahwa tujuan pendidikan IPS adalah : ( 1 ) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan; (2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis , rasa ingin tahu , inkuiri, pemecahan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial; ( 3 ) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan ; dan (4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan kompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global. Sementara itu Mutaqin ( Puskur, 2004 : 15 ) mengatakan bahwa tujuan utama mengajarkan IPS pada peserta didik adalah menjadikan warganegara yang baik, melatih kemampuan berpikir matang untuk menghadapi permasalahan sosial dan agar mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya.

Secara khusus tujuan pendidikan IPS untuk tingkat SMP Sapriya ( 2009 : 201 ) diarahkan kepada :
a.Mengenal konsep-konsep yang bekaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b.Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c.Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d.Memiliki kemampuan berkomunikasi , bekerja sama dan kompetisi dalam masyarakat majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hakekat pembelajaran IPS khususnya ditingkat SMP adalah upaya untuk mengembangkan keterampilan inteletual, memahami nilai sosial dan berkomunikasi. Berkembangnya tiga kemampuan tersebut diharapkan siswa akan mampu membuat keputusan–keputusan, sehingga mereka mampu memecahkan masalah pribadinya dan membentuk kebijakan umum dengan cara berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kemampuan dalam memecahkan masalah memerlukan keterampilan berpikir pada diri siswa.
Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pribadi maupun umum menuntut adanya pelayanan dari pihak sekolah yang lebih khusus mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya, dalam hal ini untuk pembelajaran IPS di setiap sekolah khususnya di tingkat SMP. Dengan pelayanan yang tepat diharapkan siswa dapat diajak belajar IPS dalam tingkat perkembangannya dan hakekat mata pelajaran yang dipelajari, sehingga apa dipelajari siswa bermakna bagi mereka atau istilah lain menghasilkan belajar yang bermakna ( meaningful learning ) dan memberikan hasil yang maksimal. Stahl ( Mipsos, 2009), menyatakan ada beberapa prinsip yang harus dipedoman dalam pembelajaran IPS sehingga pembelajaran IPS memberikan hasil yang maksimal, yaitu:
a.IPS yang baik jika bermakna (Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful). Pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan ide-ide yang penting dalam memahami, mengapresiasikan dan menerapkannya dalam kehidupan.
b.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang terintegrasi ( Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, keyakinan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, d) melalui lintas kurikulum
c.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang berbasis nilai (Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based). Kekuatan pembelajaran IPS dengan mempertimbangkan berbagai dimensi atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial.
d.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang menantang (Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging). Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berpikir siswa yang menantang.
e.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang aktif (Social studies teaching and learning are powerful when they are active). Pembelajaran IPS yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berpikir reflektif dan membuat keputusan (decision making) selama pembelajaran. (http://mipsos.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s