CONTOH JURNAL PTK YANG DITERBITKAN 1

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
DALAM MATA PELAJARAN IPS – GEOGRAFI
MELALUI TIM PETA TONY BUZAN
DI KELAS 8 D SMP NEGERI 14 KOTA SERANG
( CLASSROOM ACTION RESSEARCH CTL)
Oleh : Deni Sopari, M.Pd

Abstrak : Rendahnya motivasi belajar merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh para pengajar, kecendrungan siswa menampakkan kurang bergairah , kurang bersemangat, kurang siap dalam menghadapi pembelajaran dan pasif dalam menerima pelajaran . Kondisi ini tejadi juga dalam mata pelajaran IPS khususnya IPS- Geografi yang kecenderungan banyak materi hapalan yang membuat siswa menjadi jenuh. Padahal mata pelajaran ini menuntut motivasi tinggi dari siswa untuk mampu menghubungkan satu konsep dengan konsep lain sehingga muncul kebermaknaan dari konsep tersebut. Rendahnya motivasi belajar siswa ini berpengaruh juga terhadap rendahnya hasil belajar.
Melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) Kondisi ini dicoba dirobah dengan menerapkan pembelajaran model Peta Pikiran Tony Buzan yang dilakukan dalam dua siklus dengan mengambil subjek kelas 8 D.
Hasil penelitian menunjukkan bahawa dengan menggunakan model Tim Peta Pikiran Tony Buzan ini terjadi peningkatan motivasi belajar terlihat dari peningkatan siswa dengan motivasi tinggi dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18 % . Dilihat dari hasil belajar penggunaan model ini juga terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dari rata-rata 61,25 menjadi 72,27.

Kata-kata kunci : Motivasi belajar , tim peta pikiran Tony Buzan

Menurut sofyan ( 2003 : 158 ) motivasi siswa adalah suatu proses yang dilakukan untuk menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan . Hal tersebut sejalan dengan pendapat Nasution ( : 1981 ) bahwa motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga siswa itu mau dan mampu melakukan sesuatu . Dengan kondisi-kondisi tersebut akan memunculkan suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan ( Jamaras : 2002 :114 ). Perasan dan reaksi untuk mencapai tujuan ini akan mendorong siswa untuk melakukan sesuatu termasuk belajar yang dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan , antara lain kebutuhan berprestasi yaitu hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau efesiensi dalam memecahkan masalah atau menguasasi latihan yang sulit Apabila dihubungkan dengan kegiatan belajar, siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar dalam arti kata belajar akan optimal kalau ada motivasi .
Brown dalam Zubaidah ( 2004 ) Ciri-ciri siswa yang mempunyai ciri motivasi belajar tinggi , dapat dikenali selama mengikuti proses pembelajaran , yaitu sebagai berikut : ( 1 ) Tertarik kepada guru, artinya tidak acuh tak acuh kepada guru, ( 2 ) tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan, (3) antusias tinggi , serta mengendalikan perhatian dan energinya kepada kegiatan belajar, (4) ingin selalu tergabung dalam dalam suatu kelompok kelas, ( 5 ) ingin identitas diri diakui orang lain, (6) tindakan dan kebiasaan selalu terkontrol dalam lingkungan.nya.
Dengan melihat pernyataan diatas motivasi belajar adalah suatu upaya yang dikondisikan oleh guru dalam menyediakan kondisi kondisi tertentu sehingga siswa terdorong untuk mencapai tujuan belajar yang telah dirumuskan sebelumnya.
Rendahnya motivasi belajar siswa telah lama menjadi bahan pemikiran para guru di lingkungan SMP negeri 6 Serang terutama bagi guru IPS . Pada umumnya siswa menampakkan kurang bergairah , kurang bersemangat dan kurang siap dalam mengikuti pelajaran. Ketidaksiapan siswa tersebut akan mempengaruhi terhadap proses pembelajaran suasana menjadi kurang aktif , interaksi antar guru dengan siswa sangat kurang, apalagi antar siswa dan siswa , siswa cenderung pasif , hanya menerima saja apa yang diberikan oleh guru. Lebih jauh lagi kondisi ini berpengaruh terhadap hasil kognetif, afektif maupun psikomotor siswa , hal ini didukung dari hasil observasi penulis di kelas 8 D kurang bertanggungjawabnya siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, sekitar 35 % siswa mempunyai nilai tugas yang rendah, 5 % tidak mengerjakan tugas dengan berbagai alasan, seringnya keluar kelas dengan berbagai alasan, , lebih dari 20 % siswa mengantuk pada saat pembelajaran berlangsung, Rendahnya motivasi siswa juga tercermin dari respon dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran . Berdasarkan hasil pengamatan kurang dari 5% siswa yang berani tunjuk jari untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, dan kurang dari 2 % siswa berani tunjuk jari mengajukan pertanyaan kepada guru. Kondisi ini ternyata berpengaruh terhadap hasil ulangan harian siswa hanya mencapai rerata 51,7 saja. Sedangkan kriteria ketuntasan mata pelajaran IPS di SMP 6 Serang ditetapkan 65,00.

Kemungkinan rendahnya motivasi siswa disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah model pembejaran yang kurang mendukung dalam setting kelas yang mampu membangkitkan motivasi siswa untuk aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Hak ini sejalan dengan pendapat Nasution ( 1986: 76) bahwa motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau dan ingin melakasanakan sesuatu. Dilain pihak karakter peajaran IPS khususnya kajian geografi kecenderungan mengkaji keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya.
Peta pikiran adalah teknik pemamfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainya untuk membentuk kesan. Model peta pikiran ini dikembangkan oleh penemunya Tony Buzan pada tahun 1970 –an didasarkan kepada riset tentang bagaimana cara kerja otak sebenarnya. Otak sering kali mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara , bentuk-bentuk dan perasaan ( de Potter : 2001:153) . Berbeda dengan penggunaan peta konsep lainnya seperti halnya model berpikir lateral dengan peta konsepnya Edwar de Bono ( Bachman 2005: 88 ) Peta pikiran ala Tony Buzan ini menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan , seperti peta jalan untuk belajar , mengorganisasikan dan merencanakan, sehingga dengan menggunakan peta pikiran ini akan membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Pikiran tidak akan mandeg karena mengulangi catatan tersebut dibuat dalam peta pikiran. Dan yang jelas model peta pikiran ini akan menumbuhkan suasana menenangkan, menyenangkan, dan kreatif karena siswa bebas menuangkan kreatifitasnya berdasarkan modalitasnya masing-masing tanpa ada paksaan.
Keberhasilan penggunaan model peta pikiran ini digambarkan oleh Bachman ( 2005 : 78 ) tentang ceritra Edward Hughes seorang siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata yang tidak mempunyai nilai istimewa sama sekali nyatanya, setelah diajari peta pikiran dari Tony Buzan oleh ayahnya dan kemudian dia selalu mendapat nilai A dalam pelajarannya, masuk Canbridge University , lulus dengan hasil yang sangat memuaskan dan ditawari pekerjaan yang penuh gengsi sebagai pemikir strategis dalam sebuah perusahan multi nasional.
Penggunaan model peta pikiran dalam pembelajaran sangat membantu kelancaran proses pembelajaran bagi siswa seperti yang diungkapkan oleh Silberment ( 2004 : 59 ) Pemetaan pikiran merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari , atau merencanakan tugas baru. Meminta siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau apa yang tengah mereka rencanakan. Sejalan dengan pendapat Siberment , Susilo dalam Zubaidah ( 2004) mengungkapkan bahwa peta pikiran membantu siswa aktif berfikir untuk memusatkan pada sejumlah ide pokok ( berupa konsep-konsep) dari suatu pokok bahasan , yang secar rinci penggunaan peta konsep bagi siswa adalah : (1) mengeksplorasi apa yang telah di ketahui oleh sipembelajar, (2) memberikan arah pembelajaran. ( 3) membantu mengekstraksi arti kerja laboratorium atau studi lapangan. (4) membantu membaca materi dari buku pelajaran , (5) membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang berkualitas tinggi serta bermakna, karena membantu siswa mengingat informasi dan melihat keterkaitan antar konsep dan ( 6 ) membantu siswa menggabungkan ide yang satu dengan lainnya.
Peta pikiran ini bersifat idiosinkratik atrinya kebermaknaan konsep-konsep itu khas termasuk bentuk visual yang menandai tiap konsep . Tidak ada peta pikiran yang sama persis karena setiap peta pikiran yang dibuat oleh seseorang menunjukkan pengertiannya yang unik dalam bidang pengetahuan tertentu ( Susilo : 1988 ). Prosedur model peta pikiran dimulai dengan membuat sentra gambar , yang menggambarkan Topik atau gagasan utamanya, selanjutnya topik tersebut dipecah menjadi unsur-unsur yang lebih kecil dan menggambarkan unsur-unsur di sekeliling peta pikirian. Setiap gagasan ditampilkan dengan gambar dengan menyertakan sedikit mungkin kata-kata atau kata kuncinya saja . Setiap percabangan dan visual gambar usahakan menggunakan warna yang berbeda.
Untuk kepentingan penelitian ini peneliti mencoba menyatukan sifat idiokratik ini dalam satu Tim, pembuatan tim ini dimaksudkan untuk melatih kerjasama siswa di dalam menyatukan ide-ide kreatif baik dalam penyebaran konsep maupun pembuatan simbol visual tiap konsep yang didapat. Dilain pihak pembuatan tim ini untuk membantu siswa yang kemampuannya kurang sehingga bisa dibantu oleh siswa mempunyai kemampuan lebih. Akhir dari kegiatan tim ini diharapkan menjadi bekal bagi anggota kelompoknya mendapatkan pengertian yang sama tentang pembuatan model peta pikiran Tony Buzan.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa kelas 8 D SMP Negeri 14 Kota Serang dengan mengabil pokok bahasan mengenai perubahan musim di Indonesia dan persebaran flora dan fauna di Indonesia.pada semester 1.
Diharapkan penelitian ini bisa berguna bagi siswa, guru dan Sekolah . Bagi siswa , peta pikiran Tony merupakan salah satu cara untuk membiasakan diri untuk memiliki pengetahuan awal suatu konsep sebelum mempejari konsep baru, dan mampu meningkatkan motivasi dalam mempelajari pelajaran IPS – geografi yang akhirnya mampu meningkatkan prestasi belajar . Bagi guru Peta pikiran Tony Buzan merupakan salah satu alternatif alat proses pembelajaran untuk membantu siswa meningkatkan motivasi belajar IPS- Geografi. Bagi sekolah :Meningkatkan prestasi sekolah dengan meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa serta meningkatkan kemampuan guru dalam mengatasi permasalahan- permasalahan pembelajaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 14 Kota Serang untuk mata pelajaran IPS-Geografi . Sebagai Subyek penelitian adalah siswa kelas 8 ( delapan ) D yang terdiri dari 44 siswa yaitu 24 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan . Melibatkan 1 guru IPS kelas 1 sebagai kolaborator. Kelas ini sebagai miniatur dari kondisi trasnsisi budaya antara pedesaan dan perkotaan. Rancangan penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Ressearch ) Penelitian terdiri atas dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2007 dan siklus ke dua tanggal 4 Agustus 2007 . Masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan ( planning ), pelaksanaan ( Acting ), pengamatan ( Observating ) dan tindak lanjut ( Reflecting ). Secara umum alur pelaksanaan tindakan kelas ini digambarkan oleh Kurt Lewis ((http://www.ditplb.or.id/new/index.php?menu=profile&pro=3 ).S

1.Hasil Penelitian dan Pembahasan.
Siklus ke satu :
Setelah dilakukan tindakan-tindakan pada siklus 1, terdapat perubahan, yaitu motivasi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum dilakukan penelitian . Hal ini terlihat saat proses pembelajaran berlangsung misalnya pada saat presentase peneliti menunjuk salah seorang siswa dari perwakilan kelompok untuk menuliskan hasil peta pikiran kelompoknya di papan tulis dan hasilnya ditanggapi oleh kelompok lain, 5 kelompok dari 9 kelompok berpartisipasi dalam penyempurnaan peta pikiran yang dibuat oleh kelompok ; ada yang menambahkan cabang konsep baru, membuat icon/label/gambar pada tiap konsep bahkan ada yang menyanggah alur konsep. Kondisi tersebut di dukung dari hasil monitoring penilaian proses, dari hasil monitoring penilaian proses yang digunakan sebagai indikator motivasi siswa didapat hasil siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam pembelajaran dengan menggunakan mode Tim peta pikiran Tony Buzan sebesar 40 % , siswa yang memiliki motivasi belajar tergolong sedang sebesar 40 % , sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah 20 %. Kadaan yang menonjol adalah berkurangnya ; siswa yang ngantuk, tidak mengerjakan tugas, keluar kelas dengan berbagai alasan hal ini terjadi karena setiap siswa dituntut oleh kelompoknya untuk berperan dalam diskusi .
Kondisi yang kondusif mendukung timbulnya keinginan siswa untuk mau dan mampu mencapai tujuan, ternyata terbukti dari hasil siklus pertama ini walaupun perubahan tidak terlalu mencolok hal ini terlihat dari meningkatnya hasil perolehan ulangan siswa setelah proses siklus berakhir. Sebagai pembanding nilai peneliti mengambil nilai harian pertama dari pokok bahasan keadaan geografis Indonesia yang pembelajarannya tidak menggunakan model tim peta pikiran Tony Buzan.
Hasil terlihat pada perbandingan rerata nilai sebelum tindakan 51,6 memjadi 61,7 setelah tindakan pada siklus 1

Pada akhir silus 1 di minta memberikan pendapatnya tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta pikiran Toni Buzan ini diketahui bahwa sebagian siswa senang dengan model pembelajaran peta pikiran Toni Buzan, hal ini terlihat persente pilihan setuju untuk item ; lebih mudah belajarnya dan lebih mudah mengerti, lebih praktis dan lebih singkat, lebih mudah dihapal, tidak banyak memakan waktu, menghemat buku tulis dan penjelasan lebih kuat dan jelas menduduki presentase di atas 35 %. Sedangkan sebagian siswa masih merasa kesulitan dalam membagi bagan,menghubungkan antar konsep membuat label/icon/gambar tiap konsep. Kenyataan ini memang terlihat dari produk peta pikiran beberapa kelompok masih sederhana , hubungan konsep dengan konsep lain masih kurang, dan sebagian besar belum ada label. Kekurangan ini di minimalisir pada saat presentase kelompok dengan tambahan komentar dari peneliti, kondisi lain masih ada kelompok yang sulit membagi tugas masih ada siswa dalam kelompok hanya sebagai pendengar setia saja, dilain fihak suasana ribut Kekurangan-kekurangan tersebut dicari alternatif pemecahannya. Alternatif tersebut digunakan dalam persiapan tindakan siklus ke dua.
Berdasarkan hasil analisis data dan pemantauan ditemukan beberapa aspek keberhasilan, terdapat perubahan, yaitu motivasi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum pembelajaran dengan menggunakan model tim peta pikiran Toni Buzan . Peningkatan motivasi ini terlihat pada saat kegiatan presentase kelompok, dan tanggapan terhadap hasil presentase, 5 dari 9 kelomopok aktif dalam menyempurnakan peta pikiran yang ditampilkan di papan tulis, siswa yang ngantuk mulai berkurang dan siswa yang keluar kelas selama pembelajaran suda tidak ada,. Dilihat dari hasil belajar juga tejadi peningkatan walau tidak terlalu signifikan, yaitu dari 4,5 ke 6,1. Kondisi umum pada siklus 1 ini siswa merasa senang terlihat dari hasil jajak pendapat pembelajaran dengan menggunakan peta pikiran Tony Buzan ini lebih menyenangkan dengan persentase 84 %.
Sedangkan kelemahan-kelemahan yang perlu di rencanakan kembali pada siklus berikutnya , yaitu : ( 1 ) siswa dengan motivasi belajar tinggi baru sebesar 40 % berarti belum sesuai dengan indikator penelitian, ( 2). Pada pembuatan kelompok masih terlihat ramai dan kacau, (3). Aktitivitas siswa dalam menanggapi presentasi masih kurang, masih ada siswa yang tidak mau melibatkan diri dalam diskusi. ( 4 ) Pada saat presentase di depan kelas beberapa siswa masih kelihatan canggung, takut dan malu, ( 5 ) waktu sebagian besar tealokasikan untuk diskusi sehingga terjadi kekurangan waktu untuk presentase dan tanggapan. ( 6 ). Hasil peta pikiran yang dibuat kelompok masih sederhana terlihat dari kurang sempurnanya penemuan konsep-konsep dalam peta pikiran, simbol/icon dan label masih kurang.
Siklus ke dua
Rata-rata motivasi siswa dalam pembelajaran pada siklus 2 ada peningkatan ini ditandai dengan adanya :
Pada siklus ke dua diketahui ternyata hampir seluruh kelompok sudah dapat membuat peta pikiran Tony Buzan dengan baik. Hal ini terlihat dari hirarki pemikiran dalam menyusun konsep rata-rata sudah benar, kelengkapan konsep yang harus ada dan simbol/icon/ gambar sudah mulai mucul. Kondisi ini merupakan refleksi dari kesiapan siswa sebelum mengikuti pelajaran , hal ini dibuktikan dengan masuknya semua tugas peta pikiran secara individu yang ditugaskan pada siklus pertama. Beberapa tugas ditampilkan dengan tujuan untuk memotivasi kegiatan dan memberikan penghargaan kepada siswa yang membuat peta pikiran yang dikatogorikan baik dan benar. Kegiatan diskusi pada siklus II lebih hidup karena setiap anggota sudah mulai mengerti pembuatan peta pikiran Tony Buzan ini sehingga mereka aktif memberikan masukan baik dalam pemetaan konsep maupun pemberian label/gambar/icon tiap konsep. Keberanian siswa mulai muncul ketika guru meminta kelompok mana yang mau mempresentasekan hasil diskusinya, hampir semua kelompok mengacungkan tangan. . Pada saat sesi tanggapan presentase partisipsi kelompok lain baik dalam penambahan konsep , pembuatan label/icon/gambar Untuk memantapkan pemahaman terhadap peta pikiran yang telah dibuat di tunjuk salah seorang untuk menjelaskan alur berpikir dari peta konsep yang tertera di papan tulis , hasilnya cukup menggembirakan dengan hanya dibantu peta pikiran itu siswa tersebut dapat menjelaskan materi yang didiskusikan. Kondisi ini didukung dari hasil monitoring penilaian proses terlihat sebesar 58 % naik 18 %, siswa yang memiliki motivasi belajar tergolong sedang sebesar 30 % turun , 10% sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah 12 % turun 8%. Siswa yang ngantuk dan minta izin keluar sudah tidak ada.
Dilihat dari hasil test setelah proses pembelajaran berlangsung, terlihat adanyan peningkatan skor dibandingkan dengan siklus ke-1 hal ini terlihat pada rerata pendapatan skor siswa pada akhir siklus ke-2 yaitu dari 61,25 menjadi 72,27

Berdasarkan analisis pada diklus 2 didapatkan kemajuan-kemajuan diantaranya; produk peta pikiran tiap kelompok rata-rata sudah baik, aktifitas siswa meningkat hal ini didukung salah satunya oleh faktor kesiapan siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Kegiatan diskusi lebih kondusif dimana setiap peserta terlihat sudah berusaha memberikan masukan dalam kelompoknya. Kegiatan sesi tanggapan lebih aktif dibandingkan pada siklus pertama. Kondisi-kondisi tersebut menandakan adanya peningkatan motivasi siswa dalam pembelajaran. Hal ini didukung dari hasil pengamatan terjadi peningkatan siswa yang memiliki motivasi tinggi sebesar 18 % dan menurunnya siswa yang memiliki motivasi rendah sebesar 8 % .
Dalam peningkatan hasil belajar pada siklus kedua juga memperihatkan peningkatan ini terlihat dari skor akhir kegiatan siklus 2 yang lebih besar dari siklus 1 ,yaitu dari rerata 61,25 menjadi 72,72.
Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan baik dari kolaborator, angket siswa hasil monitoring nilai proses siswa dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran Tim Peta Pikiran Tony Buzan dapat meningkatkan motivasi belajar IPS-Geografi . Masalah yang ada pada saat kegiatan pembelajaran IPS-Geografi yaitu siswa menampakan kurang bersemangat dan kurang siap dalam menghadapi pelajaran sudah dapat diubah. Dengan diterapkannya model pembelajaran IPS-Geografi dengan menggunakan mode tim peta pikiran Tony Buzan. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa .
Dari hasil pengamatan pada siklus ke-1 peta pikiran yang dibuat siswa masih terlihat sederhana, sebagian besar belum memberikan icon/gambar/label pada konsep-konsep yang dipetakan padalah ini merupakan ciri khas dari peta pikiran Tony Buzan yang berfungsi sebagai alat untuk membantu mengingat konsep tersebut. Hirarki pemetaan peta pikiran masih terbatas belum mencakup konsep-konsep yang ada dalam materi yang di diskusikan. Kondisi ini pada siklus ke dua berubah hampir seluruh peta pikiran yang dibuat kelompok sudah memadai. Aktivits siswa yang terekam dalam monitoring penilaian proser sebagai salah satu indikator untuk menilai motivasi siswa juga mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, ini ditandai dengan meningkatnya presentase siswa yang mempunyai motivasi tinggi sebesar dari 40 % ke 58 % dan berkuangnya kelompok siswa yang memiliki motivasi rendah dari
Perlu diperhatikan untuk menguji pemahaman peta pikiran yang dibuat siswa hendaknya guru menugaskan siswa menuliskan dengan kata-katnya sendiri alur pikiran yang ada dalam peta pikiran yang dibuatnya hal ini lama kelamaan siswa akan mampu mengiteprestasikan peta pikirannya secara langsung. Sedang kan untuk mengembangkan peta pikiran siswa perlu dilatih untuk membuat peta pikiran yang lebih luas yang lebih banyak mengandung konsep
Keberhasilan dalam pencapai tujuan pembelajaran ternyat sangat di pengaruhi oleh kemampua seorang guru di dalam menciptakan kondisi-kondis yang mampu menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Penciptaan kondisi-kondisi yang mendukung terhadap pencapai tujuan salah satunya adalah sajauhman seorang pendidik mampu menampilkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkannya.
Pelajaran IPS khususnya IPS – Geografi dilihat dari karakter materinya merupakan salah satu mata pelajaran kecenderungan mengkaji keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya.
Peta pikiran Toni Buzan memberikan alternatif bagaimana seorang pembelajar menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan , seperti peta jalan untuk belajar , mengorganisasikan dan merencanakan, sehingga dengan menggunakan peta pikiran ini akan membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Pikiran tidak akan mandeg karena mengulangi catatan tersebut dibuat dalam peta pikiran. Dan yang jelas model peta pikiran ini akan menumbuhkan kesenangan dan ketenangan bagi siswa.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilaksanakan di kelas 8 D maka dapat disimpulkan bahwa :
1.Penggunaan Model Tim Peta Pikiran Tony Buzan bisa meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran IPS-Geografi . Hal ini terlihat dari hasil monitoring penilaian proses sebagai salah satu indikator motivasi siswa menunjukkan dengan meningkatnya katagori motivasi tinggi dari siklus 1 sebesar 40 % menjadi 58 % pada siklus 2.
2.Penggunaan model Tim Peta Pikiran Tony Buzan dalam pembelaran IPS-Geografi dapat meningkatkan prestasi siswa hal ini terlihat dari meningkatnyan hasil belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 yakni dari rerata 61,25 jadi 72,27

Saran
1.Dalam penggunaan model Pembelajaran Tim Peta Pikiran Toni Buzan perlu memperhatikan modalitas siswa, sebab tidak setiap siswa memiliki modalitas visual yang merupakan ciri khas dari model ini
2.Model pembelajarn Tim Peta Pikiran Tony Buzan ini bisa diterapkan pada pelajaran lain khususnya rumpun IPS ( Sejarah dan Ekonomi ).

*) Diterbitkan pada Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bachman, Edmund, Phd, 2005, Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif, Jakarta : Prestasi Pustaka.
2. De Porter,Debbi, 2001, Quantum Learning, Bandung : Kaifa.
3. Hasan, Hamid, 1995, Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta : DIKTI Program Peningkatan Mutu Akademik.
4. Jamarah, Syaiful, 2002, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta.
5. Maryati, Enok, 2006, Manusia Sebagai Mahluk Sosial dan Kajian Ilmu Pengetahuan Sosial, ( Makalah disampaikan dalam pelatihan guru IPS se Indonesia ) , Bandung
6. Nasution.S, Prof, DR, MA, 1989, Didaktik Asas Mengajar, Bandung : Jammars.
7. Sopyan, Hermanto, 2002, Teori Motivasi dan Aplikasinya dalam Penelitian, Yogyakarta : Nurul Zannah.
8. Sudjana, Nana, 2000, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung : Remaja Rosda Karya.
9. Silberman, Melvin.L, 2004, Active Learning, Bandung: Nusa Media.
10. Susilo, Herawati, 1999, Peta Konsep : Alat Pembelajaran yang penting dalam pembelajaran Sains dengan Pilosofis Konstrutivisme, Makalah pelatihan guru Malang.
11. Zubaidah, M.Pd, 2004, Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Laboratorium UNM ( Laporan PTK ), Malang.
12 ……………, 2007 .Model-Model Penelitian Tindakan Kelas , Direktorat Pembinaan SLB , Ditjen Pendasmen. (http://www.ditplb.or.id/new/index.php?menu=profile&pro=3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s