Arsip

KOMPETENSI DASAR SMP KURIKULUM 2013

Sebagai bahan referensi untuk bapak/ibu guru tentang kompetensi dasar yang di kembangkan dalam kurikulum 2013, dokumen ini dapat di jadikan bahan diskusi dan renungan buat temen-temen, walaupun pemberlakuan kurikulum 2013 tdk untuk semua sekolah tapi hanya sekolah-sekolah yang ditunjuk.

mudah-mudahan referensi ini bisa bermanfaat bagi bapak/ibu. Dapat di download di sini: Kompetensi Dasar Kurikulum 2013

Contoh Hasil PTK yang Diterbitkan 2

UPAYA MENINGKATKAN PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR
MENDESKRIPSIKAN KONDISI FISIK WILAYAH
MATA PELAJARAN IPS-GEOGRAFI
MELALUI PENGGUNAAN MEDIA POWERPOINT
DI KELAS 8 A SMP NEGERI 14 KOTA SERANG
( CLASSROOM ACTION RESSEARCH CTL)

Oleh : Deni Sopari.
Guru IPS – Geografi
SMP Negeri 14 Kota Serang

Pendahuluan

Joyce, Weil, dan Showers dalam Depenas (2004) menyatakan bahwa hakekat mengajar (teaching) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tekanan dari kegiatan mengajar tetap saja pada siswa yang belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah memfasilitasi siswa dalam belajar agar mereka mendapatkan kemudahan dalam belajar
Sesuai dengan cita-cita dan harapan dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa di dalam merangsang keterlibatan siswa dalam strategi pembelajaran ataupun melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses membuat orang belajar. Tujuannya ialah membantu orang belajar, atau memanipulasi lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang yang belajar. Hamzah Uno (2007). mendefinisikan pembela-jaran sebagai suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dsb. yang secara sengaja dirancang untuk mempenga¬ruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Pembelajaran bukan hanya terbatas pada kejadian yang dilakukan oleh guru saja, melainkan mencakup semua kejadian maupun kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar mengajar. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian yang diturun¬kan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Saat ini pemanfaatan berbagai program komputer untuk pembelajaran, sudah secara meluas digunakan dalam pembelajaran atau dikenal dengan e-learning (electronic-learning), contoh: CAI (Computer Assisted Instruction) atau CAL (Computer Assisted Learning), belajar lewat internet, pendidikan SIG (Sistem Informasi Geografis), web-site sekolah, dll. Segala upaya dan sumber pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa didalam menyerap segala pengetahuan yang didapat, dengan ukuran yang telah ditentukan oleh pemerintah dengan dikembangkannya konsep standar penguasaan minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik., dengan demikian rendahnya daya serap yang berujung kepada rendahnya prestasi siswa bisa dihindarkan.
Rendahnya daya serap atau prestasi belajar, atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa, sebenarnya inti persoalannya adalah pada masalah “ketuntasan belajar” yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi atau unit bahan ajaran secara perorangan. Masalah ketuntasan dalam belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Pembelajaran tuntas (mastery learning) sendiri diartikan sebagai sistem pembelajaran yang mengharapkan setiap siswa harus mampu menguasai kompetensi-kompetensi dasar (basic learning objectives) secara tuntas, yakni sekurang-kurangnya harus mencapai skor minimal 75 %. ( Depenas : 2004 )
Rendahnya pencapaian ketuntasan belajar merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh para pengajar , kecenderungan rata-rata ketuntasan yang dicapai oleh siswa kurang memuaskan dan di bawah Kriteria Ketuntasan yang sudah ditentukan, hal ini berpengaruh juga kepada banyaknya siswa yang tidak bisa menuntaskan belajarnya.. Hal ini terjadi juga dalam mata pelajaran IPS-Geografi di kelas 8 terutama menyangkut ketuntasan Kompetensi dasar mendeskripsikan kondsi fisik wilayah yang kecenderungan banyak materi yang abstrak yang membuat siswa menjadi jenuh . Padahal materi ini menuntut motivasi tinggi dari siswa untuk mampu menterjemahkan konsep abstrak tersebut ke konsep konkrit sehingga tidak terjadi verbalisme. Hal ini didukung oleh data dari tahun ajaran sebelumnya pencapai kompetensi dasar ini sebelumnya belum menunjukkkan hasil yang memuaskan . Hal ini tampak dari hasil evaluasi setelah menyelesaikan pembelajaran. Pada umumnya siswa mengalami kesulitan, sehingga dalam pencapaian ketuntasan kompetensi dasar tersebut siswa yang tuntas hanya mencapai 40 % dengan rata-rata nilai 56.75 dari KKM 60 untuk penguasaan konsep untuk bidang studi IPS yang ditentukan pada tahun ajaran 2007/2008 di SMP Negeri 14 Kota Serang jadi bisa di katakan hampir 60 % siswa tidak tuntas. Dilain pihak pada tahun ajaran 2008/2009 KKM untuk penguasaan konsep IPS di SMP Negeri 14 Kota Serang ditentukan , yaitu 65 untuk penguasaan konsep 70 untuk keterampilan social . Apalagi kalau dihubungkan dengan target mencapai ketuntasan yang diharapkan oleh seorang siswa dalam menguasai materi ideal yang ditetapkan dalam aturan standar nasional yaitu 75% ( Depenas : 2004 ), . Tuntutan kurikulum 2006 atau KTSP dalam hal “ketuntasan belajar” minimal 75 %. ini menyangkut pencapaian tarap penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi atau unit bahan ajar secara perorangan ( Depnenas : 2004 ). Oleh sebab itu masalah ketuntasan dalam belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Hal ini terlihat juga pada saat proses pembelajaran, kondisi siswa kurang respon terhadap materi yang disampaikan mereka kecenderungan pasif. Kondisi semacam ini jika dianalisis banyak faktor penyebabnya salah satunya terbatasnya kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak tentang letak, iklim dan musim .
Menyadari banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kekurang berhasilan, maka dalam pembelajaran materi yang mendukung pencapaian Kompetensi Dasar mendeskripsiskan hubungan kondisi fisik wilayah perlu dikaji faktor utama yang memungkinkan sebagai penyebab kesulitan yang dihadapi siswa. Melalui pengkajian dapat ditemukan dan sekaligus ditentukan langkah – langkah untuk memperbaikinya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki system pembelajaran antara lain dengan memanfaatkan media peta dan globe semaksimal mungkin untuk simulasi, perubahan penyampaian materi pembelajaran , penambahan tugas mengerjakan LKS, tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama dalam menigkatkan pencapaian Kompetensi Dasar tersebut. Atas dasar kenyataan yang demikian, maka perlu dicari alternative lainnya dengan melakukan inovasi –inovasi baik dalam metode penyampaian maupun penggunaan fasilitas media serta pemanfaatan komputer sebagai media untuk meningkatkan ketercapaian Kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah.

Penggunaan media powerpoint yang merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit ( Kenthut : 2004 ). Sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketercapaian kompetensi dasar tentang kondisi fisik wilayah di kelas 8 SMP Negeri 14 Kota Serang . Penggunaan media ini belum banyak dilakukan dalam peningkatan pencapain Kompetensi Dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah.
Tujuan dan Mamfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan , Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk menemukan media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam memahami konsep-konsep abstrak dalam kompetensi dasar kondisi fisik wilayah yang hasil akhirnya mampu meningkatkan pencapaian Kompetesi dasarnya.
Mamfaat yang ingin dicapai adalah bertambahnya wawasan pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam media pendidikan geografi serta dapat diaplikasi secara praktis di kelas sebagai salah satu bentuk media pembelajaran di ruang kelas, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak dalam materi kondisi fisik wilayah. Dengan demikian inovasi yang telah ditemukan dapat digunakan dalam pengajaran geografi yaitu terhindarnya siswa dalam verbalisme dalam materi geografi
Perencanaan Tindakan
Identifikasi Masalah
Berdasarkan fakta di lapangan penguasaan siswa kelas 8 terhadap kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi wilayah menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang tidak mampu mentuntaskan kompetensi dasar ini dan rata-rata pencapaian kompetensi dasar yang masih di bawah KKM yang sudah ditentukan. Kondisi ini apabila dibiarkan berlarut-larut akan berdampak pada pencapaian ketuntasan mata pelajaran . Padahal masalah ketuntasan belajar merupakan masalah penting sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Untuk mengatasi permasalah tersebut , peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas dalam upaya meningkatkan pencapaian kompetensi dasar mendeskripsikan wilayah mata pelajaran IPS-Geografi melalui penggunaan media powerpoint di kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang.

Analisis dan Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ditemukan pada pembelajaran pencapaian Kompetensi Dasar ( KD) mendeskripsikan kondisi fisik wilayah di kelas 8 SMP Negeri 14 Kota Serang, peneliti mencoba mencari penyebab mengapa siswa banyak yang tidak tuntas dan rata-rata pencapaian kompetensi dasar masih rendah dibawah KKM yang telah ditentukan.. Dari pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil analisis masalah sebagai berikut ,
1. Siswa belum memahami konsep-konsep abstrak yang tersaji dalam materi mendeskripsiskan kondisi fisik wilayah yang muncul kecenderungan verbalisme.
2. Aktivitas guru dalam menjelaskan materi lebih didominasi dengan metode ceramah dibandingkan dengan metode lainnya dan siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran
3. Penggunaan alat bantu globe dan atlas yang selama ini digunakan dalam pembelajaran materi mendeskripsikan kondisi fisik wilayah kurang begitu menarik perhatian siswa.

Berasarkan latar belakang dan identifikasi masalah , dapat diambil rumusan masalah :
” Apakah penggunaan powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi dasar kondisi fisik wilayah di Kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang .”
Rencana Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka disusun rencana tindakan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Rencana perbaiakan disusun dalam bentuk siklus yang saling berkelanjutan , yaitu sebagai berikut :
1. Siklus 1
Pada siklus pertama ini dimulai dengan fase memberikan rangsangan dengan menampilkan powerpoint tentang kondisis fisik wilayah yang dibantu dengan in focus dan komputer yang telah diisi dengan program pembelajaran di tiap-tiap kelompok , dengan tujuan membangkitkan rangsangan keingintahuan pada diri siswa yang juga penciptaan suasana baru dan peneliti hanya menginginkan pemahaman siswa dalam penggunaan media powerpoint .
Selama siklus pertama berlangsung , kolaborator mengamati tindakan yang dilakukan oleh guru/peneliti dan mendata hasil dan kemajuan yang dicapai siswa dengan menggunakan perangkat monitoring (untuk guru) dan evaluasi ( untuk siswa )
Berdasarkan data hasil pengamatan baik melalui catatan maupun rekaman video , maka hasil catatan peneliti dikoordinasikan dengan kolaborator untuk mengetahui kelancaran proses pembelajaran.
Apabila dalam siklus pertama peningkatan prosentase ketuntasan siswa belum nampak berarti , maka peneliti akan melakukan tindakan berikutnya dengan melakukan siklus ke dua tanpa mengesampingkan hasil yang sudah dialami pada tindakan /siklus sebelumnya.
2. Siklus 2
Dengan merefleksi dari hasil pada siklus pertama, kita dapatkan kekurangan / kelemahan dan kelebihan/keunggulan. Untuk memperbaiki kekurangan / kelemahan dan lebih menguatkan kelebihan / keunggulan yang sudah ada pada siklus pertama, dilakukan tindakan /siklus berikutnya ( ke dua) dengan tujuan adalah lebih mengerucut kepada perbaikan motivasi dan hasil belajar dalam pemahaman konsep dengan menggunakan media powerpoint
Diharapkan setelah siklus ke dua ini , target dari tujuan yang hendak dicapai yaitu meningkatkan peningkatan pencapaian Kompetensi Dasar Kondis wilayah dapat tercapai. Dimana hasil ini akan berdampak pada pencapaian ketuntasan Standar kompetensi yang telah ditentukan melalui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan di lingkungan SMPN 14 Kota Serang untuk Bidang Studi IPS khususnya mata pelajaran IPS – Geografi.
Hipotesis Tindakan
Apabila guru menggunaan media powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah di kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
1. Tempat pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 14 kota Serang yang sebelumnya bernama SMP Negeri 6 Serang yang beralamat di Jalan Kagungan No. 7 Serang. Subjek penelitian ini , yaitu siswa kelas 8 A dengan jumlah siswa 40 siswa, yang terdiri 22 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Dengan melibatkan satu orang kolaboran dari guru pengajar IPS kelas 7.

Prosedur Pelaksanaan
Prosedur PTK ini menggunakan prosedur dari Kurt Lewin. Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu ; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus .
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus lanjutan direncanakan berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya sehingga masing-masing siklus saling berkaitan . Siklus berikutnya merupakan modifikasi dari siklus sebelumnya untuk mencapai hasil yang lebih baik . Dengan kata lain kekurangan dan kelemahan yang ditemui dalam satu siklus dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk siklus selanjutnya.
HASIL PENELITIAN
1. Siklus 1
Hasil kegiatan penelitian ini menekan kepada dua aspek yaitu :
a. Rata-rata peningkatan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Setelah dilakukan tindakan-tindakan pada siklus 1, terdapat perubahan dalam peningkatan pencapaian kompetensi dasar kondisi fisik wilayah pada sub materi pokok pembelajaran letak geografis Indonesia Indonesia . Hal ini terlihat dari hasil test yang dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir dan hasilnya dibandingkan dengan hasil sebelumnya . Pencapaian rata-rata nilai siswa mencapai 65,5 seperti tercantum dalam tabel di bawah ini
Tabel : 1 Peningkatan rata-rata pencapain kompetensi dasar.
peningkatan pencapain kompetensi dasar
Rata-rata sebelum tindakan Rata-rata pada siklus ke – 1 Peningkatan
56.75 65.5 8,75

Dari tabel di atas terlihat adanya peningkatan rata-rata kelas dalam peningkatan pencapaian kompetensi dasar yaitu terjadi peningkatan 8,75. Kalau dihubungkan dengan target pencapaian KKM yang telah ditentukan di SMP Negeri 14 Kota Serang pada tahun ajaran 2007-2008 rata-rata hasil penelitian ini telah melampai 0,0,5 .
Peningkatan pencapain kompetensi dasar dalam materi pokok ini terlihat dari skor jawaban yang diberikan oleh siswa tentang posisi geografis Indonesia rata-rata menjawab benar ( 90% ) atau mampu menjawab benar 4 yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 4 soal dari 5 soal yang diajukan sedangkan untuk nomor 5 dengan pertanyaan ” Bagaimana pengaruh posisi geografis siswa yang menjawab sempurna 50% ( menjawab dengan benar 3 pengaruh posisi geografis ) ,40% kurang sempurna ( menjawab 2 jawaban ) dan tidak sempurna ( menjawab 1 atau tidak sama sekali memberikan jawaban ) . Hasil test dari sub pokok materi posisi geografis yang cukup menggembirakan ini dimungkinkan karena siswa terlebih dahulu diberikan pengertian letak dan posisi Indonesia secara berurut mulai dari posisi bumi dalam sistem tata surya, letak dan posisi Indonesia dalam bola bumi dan akhirnya ditampilkan posisi Indonesia dalam peta dalam bentuk sebenarnya di lapangan. Sehingga siswa dengan melihat tampilan tersebut mampu menyimpulkan posisi. Tampilan powerpoint pada siklus 1 terdiri dari ; posisi bumi dalam tata surya, posisi Indonesia di bola bumi,skema garis lintang dan garis bujur, nama dan kedudukan garis hayal dalam globe, pembagian waktu
b. Peningkatan jumlah ketuntasan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Peningkatan pencapaian kompetensi dasar pada siklus 1 ternyata berpengaruh terhadap peningkatan jumlah siswa yang mampu menuntaskan kedua indikator ini, ketuntasan mata pelajaran IPS untuk pemahaman konsep pada tahun ajaran 2008 – 2009 yang ditetapkan di SMP Negeri 14 Kota Serang adalah 65 .Banyaknya siswa yang mampu menuntaskan materi dengan KKM 65 pada siklus 1 sebanyak 26 orang dari 40 peserta didik dengan rincian nilai sebagai mana tersaji dalam tabel di bawah ini
Tabel : 2 Peningkatan jumlah pencapain ketuntasan kompetensi dasar.
N0 Rentang Nilai Jumlah siswa % Keterangan
1.
2.
3. 75 ke atas
65 s.d. 70
Kurang dari 65 10 orang
16 orang
14 orang 25 %
40 %
35 % Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Jumlah 40 100 % Yang tuntas 65 %
Dari data di atas terlihat jumlah siswa yang tuntas mencapai 26 siswa dari 40 peserta didik atau mencapai 65 % . Pencapaian ini apabila dibandingkan dengan data awal penelitian mengenai jumlah siswa yang berhasil tuntas pada kompetensi dasar tentang kondisi fisik wilayah ini yang hanya mencapai 40 % dari peserta didik, berarti ada peningkatan dari 40 % siswa menjadi 65 % atau terjadi kenaikan 25 %. Atau ada peningkatan dari 16 siswa menjadi 24 siswa atau terjadi peningkatan 10 orang siswa.
Catatan lain dari siklus adalah terjadinya perubahan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan powerpoint ini berdasarkan pengamatan baik yang dilakukan oleh peneliti maupun kolaboran, terjadi perubahan aktifitas. Siswa terlihat lebih antusias dalam mengikuti materi, hal ini dimungkinkan dengan tampilan powerpoint dengan segala pareasinya mampu meningkatkan perhatian siswa dilain pihak media powerpoint ini merupakan media baru.
Hal ini terlihat hampir semua siswa ingin mencoba langsung mengoperasikan program powerpoint ini di komputer yang ada dikelompoknya bahkan kecenderungan saling ingin paling duluan mencoba. Keingintahuan akan materi ini terlihat dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa mengenai tampilan-tampilan yang tersaji dalam powerpoint. Kondisi ini di dukung oleh pendapat siswa yang terjaring dalam jajak pendapat mengenai pembelajaran dengan menggunakan media powerpoint terekam
Dari rubrik pertanyaan terlihat bahwa sebagian besar siswa berpendapat bahwa mereka lebih memahami terhadap konsep-konsep abstrak yang ada pada materi kondisi fisik wilayah, hal ini terlihat dari persentase pilihan lebih jelas memahami konsep yang kurang jelas mencapai 98 % atau 38 siswa dari 40 siswa setuju dengan pernyataan kejelasan konsep abstrak tersebut. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan siswa bahwa dengan menggunakan powerpoint ini mereka lebih terfokus ( 98%) hal ini akibat dari ketertarikan mereka terhadap tampilan-tampilan dipowerpoint yang notabene baru mereka lihat, sehingga belajar lebih menyenangkan dan tidak jenuh . Sedangkan sebagian siswa berpendapat bahwa dengan menggunakan powerpoint lebih susah karena harus mampu mengopersikan komputer terutama aplikasi powerpoint (37.5 %), sulit menterjemahkan gambar dalam powerpoint dan 15% berpendapat lebih ruwet dan susuah dimengerti . Kenyataan ini memang terlihat pada saat diskusi menyelesaikan kertas kerja, sebagian siswa kelihatannya pasif dan hanya sebagai pemerhati saja. Keadaan ini diminimalisir dengan adanya intervensi peneliti dengan langsung membantu kepada siswa yang masih kesulitan di dalam mengoperasikan komputer. Kondisi lain dalam penggunaan powerpoint ini masih adanya kelompok yang sulit membagi tugas, masih adanya kecenderungan pendominasian oleh seseorang di dalam mencari jawaban yang tersaji di powerpoint. Pada saat presentasi disini juga terlihat masih saling tunjuk siapa yang harus tampil sehingga memakan waktu. Kekurangan-kekurangan tersebut dicari alternatif pemecahannya . Alternatif tersebut digunakan dalam persiapan siklus selanjutnya.
2. Siklus 2
Dalam kegiatan pengamatan pada siklus 2 ini peneliti sama menekankan kepada dua aspek yaitu :
a. Rata-rata peningkatan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Rata-rata motivasi siswa dalam pembelajaran pada siklus 2 ada peningkatan ini ditandai dengan adanya :
Pada siklus ke dua diketahui pada hasil test yang dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir, terjadi peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar untuk pencapaian dua indikator musim dan persebaran flola fauna di Indonesia , yaitu meningkat dari 65,5 menjadi 72,12 atau terjadi peningkatan sebesar 18,3
Tabel : 4 Peningkatan rata-rata pencapain kompetensi dasar.pada siklus 2
peningkatan pencapain kompetensi dasar
Rata-rata siklus
Ke 1 Rata-rata pada siklus
ke 2 Peningkatan
65.5 72,12 18,3

Materi yang di coba divisualisasikan dalam power poin pada siklus ke 2 ini adalah tentang musim di Indonesia dengan indikator siswa mampu mengidentifikasikan penyebab terjadinya perubahan musim dan menentukan bulan berlangsungnya musim hujan dan musim kemarau di wilayah Indonesia dan pencapaian indikator mampu menginformasikan persebaran flora dan fauna tife Asia , Australia serta kaitannya dengan pembagian wilayah Wallacea dan Webber.Tampilan powerpoint pada siklus 2 meliputi : model perputaran bumi terhadap matahari, sketsa peredaran semu matahari, skema angin musim barat laut dan angin musim timur laut, peta pembagian fola dan fauna di Indonesia dan contoh gambar fauna di tiap wilayah.

b. . Peningkatan jumlah ketuntasan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Peningkatan rata-rata kompetensi dasar pada siklus ke dua ini, mempengaruhi jumlah siswa yang mampu mentuntaskan materi yang di tetapkan yaitu 65 untuk penguasaan konsep, bahkan beberapa siswa mampu melampaui batas KKM yang sudah ditentukan. Hal ini terlihat dari data hasil test untuk 2 materi ini, seperti yang tersaji pada tabel di bawah ini.
Tabel : 5 Peningkatan jumlah pencapain ketuntasan kompetensi dasar.
N0 Rentang Nilai Jumlah siswa % Keterangan
1.
2.
3. 75 ke atas
65 s.d. 74
Kurang dari 65 15 orang
20 orang
5 orang 37.5 %
50 %
12.5 % Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Jumlah 40 100 % Yang tuntas 87,5 %

Berdasarkan analisis pada siklus 2 didapatkan kemajuan-kemajuan diantaranya; terjadinya peningkatan pencapaian rata-rara kompetensi dasar. yaitu meningkat dari 65,5 dari siklus ke-1 menjadi 72,12 pada siklus ke 2 atau terjadi peningkatan sebesar 18,3. Peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar ini berpengaruh terhadap jumlah siswa yang berhasil menuntaskan pencapaian kompetensi dasar yang berpedoman kepada kriteria ketuntasan materi ( KKM) yang telah ditentukan untuk mata pelajaran IPS terutama untuk pencapaian konsep yaitu 65.
Dengan rincian siswa yang mendapatkan nilai dari 75 ke atas terdapat 15 orang, antara 65 sampai dengan 74 terdapat 20 siswa dan di bawah 65 terdapat 5 orang siswa. Dengan demikina terjadi peningkatan jumlah yang berhasil tuntas dari 65% menjadi 87,5 % atau terjadi peningkatan 22,5 %
Dilihat dari segi proses terutama pada aktifitas siswa, pencapaian yang cukup signifikan baik dari peningkatan pencapaian rata-rata kompetensi dasar dan jumlah siswa yang tuntas. Didukung oleh kondisi pembelajaran yang kondusif, hal ini setelah di adakan tindakan-tindakan perbaikan pada siklus 2. Diantaranya meratanya siswa yang mampu mengoperasikan komputer ditiap kelompok, kejelasan pembagian tugas tiap kelompok, kesiapan siswa dalam menghadapi materi baru karena sudah dipersiapkan sebelumnnya, komputer yang tidak berfungsi sudah bisa digunakan sehingga tidak berebut. Dari perbaikan kondisi pembelajaran ini siswa lebih terpokus mengerjakan tugas kelompoknya. Ketika saat presentase, penunjukan wakil kelompok untuk mempresentasekan, hampir semua kelompok mengacungkan tangan . Dan ketika siswa yang terpilih mewakili salah satu kelompok, berdasarkan pengamatan sudah mampu dengan baik mengoperasikan aplikasi powerpoint dan menjelaskan materi di dalamnya.
Dalam sesi tanggapan terhadap hasil diskusi animo siswa cukup tinggi hal ini terlihat dari pengamatan , banyak siswa yang ingin mengomentari, bertanya bahkan menambahkan materi yang dipresentasekan.

Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan baik dari kolaborator, angket siswa hasil monitoring nilai proses siswa dapat dinyatakan bahwa penggunaan media powerpoint mampu meningkatan pencapaian kompetensi dasar ( KD ) mendeskripsikan konsisi fisik wilayah
Masalah yang ada pada saat kegiatan pembelajaran mendeskripsikan kondisi fisik wialayah yaitu rendahnya pencapaian rata-rata kompetensi dasar dan banyaknya siswa yang tidak mampu mentutaskan kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah, khususnya di kelas 8A SMP Negeri 14 Kota Serang sudah dapat diubah. Dengan diterapkannya penggunaan media powerpoint dalam pembelajaran materi konsisi fisik wilayah.
Dari hasil pengamatan pada siklus ke-1 rata-rata peningkatan ketuntasan siswa dibandingkan dengan sebelum tindakan masih rendah yaitu hanya 8,75 , sebagian besar siswa masih terlena dengan tampilan-tampilan yang tersaji dalam powerpoint, hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan yang sifatnya analisis banyak siswa yang mengalami kesulitan. padalah dalam pembelajaran dengan menggunakan media powerpoint ini diharapkan siswa mampu memprediksikan tampilan-tampilan gambar/flas yang tersaji dan mampu menghubungkan antara satu konsep dengan konsep sehingga dapat menyimpulkan gejala-gejala yang terjadi pada kajian materi konsisi fisik wilayah.yang menjadi indikator bahwa siswa sudah mampu memahami konsep-konsep abstrak manjadi nyata.. Kondisi ini tidak terlepas dari kesiapan siswa, terutama dalam kesiapan materi awal siswa. Disamping itu penggunaan media powerpoint ini masih baru, sehingga banyak siswa yang lebih terfokus kepada tampilan powerpoint dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Pada siklus ke-2 setelah diadakan perbaikan terhadap kekurangan yang terjadi pada siklus 1, terutama dalam kesiapan materi, pembagian kelompok terjadi perubahan hampir seluruh kelompok mampu menyelesaikan tugas . Aktivitas siswa yang terekam dalam monitoring penilaian proses sebagai salah satu indikator untuk menilai motivasi siswa selama pembelajaran dengan mengggunakan media powerpoint juga mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, ini ditandai dengan aktifnya setiap siswa dalam menyesaikan tugas kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing serta munculnya pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan-tanggapan terhadap hasil presentase yang disampaikan oleh temannya dari kelompok lain dan yang paling penting siswa sudah terkondisikan dengan penggunaan media powerpoint ini . Kondisi yang kondusif ini berpengaruh terhadap peningkat rata-rata pencapaian hasil belajar yaitu meningkat menjadi 72.12.
Peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar dan peningkatan jumlah siswa yang berhasil mentuntaskan kompetensi dasar ini, terlihat dari kesimpulan meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa dari 65,5 dari siklus ke-1 menjadi 72,12 pada siklus ke 2 .Peningkatan rata-rata pencapaian indikator ini apabila dirata-ratakan dapat mewakili pencapaian rata-rata peningkatan ketuntasan kompetensi dasar keadaan fisik wilayah yaitu 4 dari lima indikator yang ada pada kompetensi dasar ini. Rata-rata pencapaian dari 4 indikator ini adalah 68,81. Kondisi peningkatan pencapaian kompetensi dasar ini berpengaruh juga terhadap jumlah siswa yang tuntas yaitu terjadi kenaikan 22,5% yaitu dari 65 % ke 87,5 % . Artinya apabila dirata-ratakan jumlah siswa yang tuntas pada siklus 1 dan 2 mencapai 76,25 % atau sebanyak 31 siswa dari 40 siswa
Perlu diperhatikan dalam pembelajaran yang mengunakan media powerpoint ini pengajar dituntut untuk membuat tampilan-tampilan yang menarik dan sistematik, artinya tampilan yang dikemukakan hendaknya tidak monoton tetapi ada variasi tampilan, hal ini bertujuan selain untuk menarik perhatian siswa, pemvisualitasan konsep-konsep abstrak akan lebih efektif. Sedangkan sistematik artinya tampilan tersebut harus terurut dengan baik, sehingga siswa akan mampu menghubungkan satu konsep dengan konsep lain dalam satu kompetensi dasar . Dengan demikian diharapkan siswa kan mampu membuat kesimpulan dari kompetensi dasar yang sedang di kaji.
Keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran khususnya pencapaian kompetensi dasar ternyata sangat di pengaruhi oleh kemampuan seorang guru di dalam menciptakan kondisi-kondis yang mampu menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Penciptaan kondisi-kondisi yang mendukung terhadap pencapai tujuan salah satunya adalah sajauhmana seorang pendidik mampu menampilkan suatu media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkannya.
Pelajaran IPS khususnya IPS – Geografi dilihat dari karakter materinya merupakan salah satu mata pelajaran kecenderungan mengkaji konsep abstrak dan keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa, salah satu muncul dalam kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk memahami konsep-konsep abstrak tersebut dan mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya yang akhirnya menimbulkan verbalisme pada diri siswa
Media powerpoint merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media. Yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit, memberikan alternatif bagaimana seorang pembelajar menggunakan pengingat-pengingat visual dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan. Dan yang jelas pengunaan media power poin ini akan menumbuhkan kesenangan dan ketenangan bagi siswa, dan penyakit verbalisme yang selama ini menjadi masalah dalam pelajaran IPS-geografi yang menyangkut konsep-konsep abstrak bisa ditanggulangi.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas 8 A untuk Kompetensi Dasar mendeskripsikan kondisi wilayah pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2008 – 2009 di SMP Negeri 14 Kota Serang. maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan Media Powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi Dasar ( KD ) mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dalam mata pelajaran IPS-Geografi . Hal ini terlihat dari hasil monitoring penilaian sebagai salah satu indikator adanya peningkatan pencapaian kompetensi dasar.yaitu :
1. Terjadi peningkatan rata-rata pencapaian nilai setelah proses pembelajaran terjadi pada siklus 1 rata-rata 65,5 menjadi 72,12 pada siklus 2., atau terjadi peningkatan 18,3. Apabila pencapaian nilai tersebut dirata-ratakan maka didapatkan nilai rata-rata pencapain kompetensi dasar setelah tindakan sebesar 68,81. Hal ini artinya penelitian ini membuktikan bahwa dengan menggunakan media power poin pencapaian kompetensi dasar siswa meningkat. Terlihat dari hasil penelitian dari indikator kinerja penelitian yang ditargetkan rata-rata pencapaian kompetensi dasar untuk kelas 8A minimal mencapai 65 sudah tercapai bahkan lebih 3,81. Begipula apabila dibandingkan dengan rata-rata pencapaian kompetensi dasar sebelum diadakan tindakan terjadi peningkatan dari 56,75 menjadi 68,81 atau terjadi peningkatan rata-rata 12,06
2. Terjadinya peningkatan jumlah siswa yang tuntas , yaitu pada siklus 1 mencapai 65 % meningkat menjadi 87,5 % atau dari yang tuntas sebanyak 26 siswa menjadi 36 siswa dari 40 siswa. Apabila dirata – ratakan dari siklus 1 dan 2 mencapai 76,25% sebanding dengan 31 siswa dari 40 siswa.
3. Media powerpoint merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media. Yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit. Terbukti dari hasil penelitian mampu meningkatkan pencapaian kompetensi dasar kondisi fisik wilayah dan menumbuhkan motivasi baru siswa untuk lebih terfocus dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal tersebut karena media ini mampu memusatkan pikiran siswa dengan tampilan-tampilannya.
Saran-saran
1. Dalam penggunaan media powerpoint perlu memperhatikan kemampuan siswa dalam mengoperasikan komputer, sebab tidak setiap siswa memiliki kemampuan tersebut. Hal ini penting untuk pembentukan kelompok.
2. Komputer yang digunakan hendaknya memenuhi syarat dapat digunakan untuk mengoperasikan powerpoint dan flas media.
3. Media powerpoint dengan vareasi model pembelajaran dapat digunakan pada pelajaran lain khususnya rumpun IPS ( Sejarah dan Ekonomi ).
4. Disarankan kepada rekan-rekan pengajar yang tertarik dengan pengembangan media powerpoint dalam proses pembelajaran ini, untuk lebih mengembangkan vareasi-vareasi yang lebih menarik sehingga materi-materi yang sifatnya abstrak yang berujung kepada munculnya verbalisme dalam pembelajaran bisa diatasi dengan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kentut,Drs. 2004. Prinsif Pengembangan Media, Pustekom. Jakarta.
2. Nasution, Prof,Dr,MA. 1986. Didaktik Asas Mengajar, Bandung Jemmars.
3. Sapriya. Dkk, 1999, Studi Tentang Media Pembelajaran Nilai dalam mata pelajaran PPKN di SLTP dan SMU Bandung ( Laporan penelitian, tidak diterbitkan. )
4. Surakmad, Winarno. 1982. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar : Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran, Bandung. Tarsito.
5. Sadiman, Arief dkk. 1996. Media Pendidikan , Jakarta, Pustekom Dikbud dan PT Raja Grafindo Persada.
6. Sudjana Nana, DR. 1987. Proses Belajar Mengajar, Jurusan Teknologi Pendidikan IKIP Bandung.
7. Uno Hamzah.B, Prof, DR, M.Pd. 2007. Model Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif , Jakarta, Bumi Aksara.
8. ……………………………. , Pedoman Pembelajaran Tuntas, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
9. http://www.ditplb.or.id/new/index.php, Model- model Penelitian Tindakan Kelas . Direktorat Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta.

Contoh Tulisan Ilmiah Populer yang Diterbitkan 1

PERLUNYA VIRUS “ n-Ach” DALAM MENUMBUHKAN
BUDAYA UNGGUL DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Oleh : Deni Sopari. *)
Diterbitkan dalam JURNAL PENDIDIKAN PROVINSI BANTEN
Pendahuluan

Upaya mencari pemecahan masalah di seputar pendidikan saat ini mulai memperlihatkan titik terang dengan dikeluarkannya PP No 19 Thn 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang merupakan realisasi dari UU No. 20.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional .PP ini diperkuat dengan terbitnya Permendiknas dan wujud implementasinya dengan digulirkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dikenal dengan KTSP. Diharapkan dengan pembaharuan system ini mampu menjawab permasalahan dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan dalam mengantisifasi perkembangan zaman dan memberikan acuan bagi penyelenggara pembelajaran di satuan pendidikan minimal sampai dengan tahun 2025. Sehingga mutu out put pendidikan kita bisa meningkat dan mempunyai daya saing yang tinggi di mata dunia yang selama ini dianggap masih rendah.
Ketercapaian target tujuan dari sistem ini apabila kita kaji dari pengalaman sebelumnya yang dipandang kurang memenuhi harapan salah satunya adalah faktor mentalitas dari individu-individu yang terlibat baik langsung maupun tidak terhadap dunia pendidikan yang konon menentukan hitam putihnya Negara dan bangsa di masa yang akan datang. Maka untuk memperbaiki mentalitas ini diperlukan adanya virus mental yang mampu merangsang untuk berprestasi lebih baik sehingga diharapkan munculnya budaya unggul di dunia pendidikan , dengan demikan akan mengasilkan produk pendidikan yang baik dan sekaligus mampu menaikan daya saing dengan hasil pendidikan dari Negara-negara lain , virus mental itu dinamakan n-Ach
( need-for Achievment ).

Arah Pendidikan Nasional
Lahirnya Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional lahir dari tuntutan pelaksanaan pembaharuan pendidikan yang diharapkan dapat mendukung segala upaya memecahkan permasalahan pendidikan.
Permasalahan pendidikan selama ini dipandang masih belum menemukan formula yang sesuai dengan kebutuhan zaman atau dengan kata lain pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Pendidikan belum mampu menghasilkan out put yang memadai dan menciptakan sumber daya manusia yang andal, apalagi membangun kualitas bangsa . Krisis multidimensional yang berkepanjangan yang melanda bangsa Indonesia. Dan daya kompetitif hasil pelaporan dari beberapa lembaga yang banyak dilansir oleh media massa dari laporan hasil Study The Third Mathematic and Science Study ( IAE, 2003) mengenai prestasi siswa SMP dalam bidang IPA dan Matematikan ( Wisudo : 2004 ) dari UNDP dalam Human Develovment Report 2003 tentang pengembangan sumber daya manusia ( Sumarna : 2005 )dan dari The world Economic Forum, Swedia ( 2000) tentang daya saing dunia ( Surapranata ) ketiga laporan tentang prestasi pendidikan kita kurang menggembirakan . Merupakan dua contoh kasus yang bisa dijadikan bukti secara umum kegagalan sistem pendidikan di Indonesia selama ini ( Surakhmad dalam Gerbang : 2003 ).
Permasalahan-permasalahan tersebut dalam UU. No .20 Tahun 2003. tentang system pendidikan nasional secara konseptual telah terakomidir, hal ini terlihat diantaranya dari ;1). Visi pendidikan pendidikan nasional, yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memperdayakan semua warga negara Indonsia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sejalan dengan visi ini Pendidikan Nasional Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif. 2) Misi pendidikan Nasional . Mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif. Dalam misi ini termaktup bagaimana meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan , keterampilan, pengalaman , sikap , dan nilai berdasarkan standar nasional dan global .3).Rencana pembangunan Pendidikan nasional jangka panjang . Disini diprediksikan ketercapaian target pendidikan ,yaitu : periode 2005 – 2010 peningkatan kapasitas dan modernisasi, periode 2010 – 2015 penguatan pelayanan, periode 2015 – 2020 Daya saing regional dan periode 2020 – 2025 pencapaian daya saing Internasional. 4.)Acuan operasional Kurikulum yang diterapkan. Diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan , teknologi, dan seni, ; tuntutan dunia kerja dan dinamika perkembangan global. 5). Adanya Standarisasi Nasional pendidikan, Standar ini di atur dalam Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005. Standar Nasional Pendidikan ini adalah kriteria minimal tentang system pendidikan di seluruh wilayah hukum Indonesia , dan dinaungi langsung oleh suatu Badan Standar Nasional Pendidikan yang dikenal dengan BNSP dengan fungsinya sebagai badan yang bertanggung jawab mengembangkan , memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi Standar Nasional Pendidikan. Dan yang 6 ). Adanya Lembaga Penjaminan Mutu yang dikenal dengan LPMP yang merupakan unit pelaksana teknis Departemen yang berkedudukan di provinsi yang membantu pemerintah daerah dalam bentuk suvervisi , bimbingan arahan, saran dan bantuan teknis kepada satuan pendidikan dalam upaya penjaminan mutu satuan pendidikan untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan. ( Depenas : 2007 ).
Dari uraian di atas terlihat kemana arah sistem pendidikan kita mulai dari perencanaan , pelaksanaan dan pengawasan dan apabila dilaksanakan dengan konsisten, mewujudkan pendidikan Nasional yang bermutu dan out put pendidikan yang kompetitif dan unggul dalam persaingan dunia bukan merupakan suatu hal yang mustahil dan ini sesuai dengan kebijakan pokok pembangunan pendidikan nasional yang salah satunya peningkatan mutu pendidikan , relevansi dan daya saing, sehingga permasalahan-permasalahan yang penulis uraiakan di atas bisa teratasi dengan baik..
Yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah sistem pendidikan yang sangat ideal ini bisa terlaksana dengan baik di lapangan sehingga tujuan ideal bisa tercapai dengan baik ?
Dengan meminjam istilah “ The man behind the Gun “ bisa memberikan gambaran kepada kita salah satu faktor keberhasilan suatu sistem dan atau program apapun sangat tergantung kepada factor man ( manusia ) terutama mentalitasnya. Apakah factor manusia mulai dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta pemangku kepentingan ( stakeholder ) memiliki mentalitas yang diharapkan dengan perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan ini yaitu perubahan sistem pendidikan secara umum khususnya perubahan kurikulum ini serta melaksanakan dengan sebaik mungkin , menghindari penyimpangan arah perubahan yang diinginkan dan mempunyai mentalitas yang selalu ingin berbuat yang terbaik serta sadar bahwa pendidikan itu adalah investasi bangsa yang menentukan hitam-putihnya bangsa dan negara di masa yang akan datang sehingga memunculkan budaya unggul yang nantinya mampu berkompetitif dengan bangsa lain atau tidak. ?.

Perlunya Virus n-Ach
Dalam sambutannya pada saat peluncuran buku terbaru karya Stepen. R Covey yang berjudul The 8th Habit : from effectiveness to Greathness dalam seminar “ Achieving Greathness a Turbullent World in The 8th Habit “ Presiden SBY menginginkan timbulnya budaya unggul ( culture of excellence) yang berlandaskan kesadaran akan kemampuan diri sendiri dapat menjadi identitas dan semangat kebangsaan negara. Budaya unggul tersebut diharapkan kelak menjadi budaya nasional . Budaya unggul ini adalah semangat dan kultur untuk mencapai kemajuan dengan cara berbuat yang terbaik ( Kompas ‘ 1/12/2005)
Harapan luhur presiden di atas akan terwujud apabila ada konsep yang mampu memberikan arah prilaku dan mental budaya kepada individu maupun lembaga/instansi yang menjadi ukuran bagaimana mewujudkan budaya unggul tersebut .
Mc. Celland dalam hal ini mengungkapkan suatu konsep yang disebut virus mental yaitu semacam rangsangan pada proses berpikir aktif dan kreatif , virus ini dinamakan nAch ( need for Achievment ), yaitu hasrat untuk berprestasi yang lebih tinggi dari apa yang pernah diraihnya. Isi atau muatan mentalitas ini berisi sejumlah tata nilai dan sikap yang dimiliki individu atau instansi / lembaga . ( Mutakin : 1990 ).
Tata nilai ini berisi tuntunan/arahan terhadap prilaku seseorang atau kelompok dalam berprilaku dalam menghadapi perubahan yang terjadi yang dikenal dengan istilah mordenisasi . Pada dasarnya mordenisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pramoderen dalam arti teknologi ke arah pola-pola ekonomi dan politis yang menjadi cirri-ciri negara barat yang stabil ( Soekamto : 1990). Biasanya perubahan social ini kearah ( directed-Change ) yang didasarkan pada perencanaan yang matang ( social planning ) . Tetapi di negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia sering terjadi perubahan yang tidak dikehendaki ( unintended-Change ) atau perubahan yang tidak terencanakan ( unplanned – change ) . Seiring dengan Era globalisasi yang diiringi oleh transformasi ; ekonomi, demografi bentuk penyimpangan ini sering terjadi dalam bentuk ketinggalan budaya ( culture lag ) akibat dari arus transformasi yang tidak diimbangi dengan kesiapan mentalitas individu atau kelompok sehingga memunculkan mentalitas yang justru merusak proses mordenisasi . Hal ini pernah terjadi pada saat negara ini mengalami perubahan dari iklim sebelum dan sesudah revolusi yang banyak tekanan iklim kemerdekaan dan kedamaian , karena ketidak siapan mental dan tatanan sosial yang belum sempat tertata dengan baik perubahan itu justru mengakibatkan “trauma” yang mengkristral mewujudkan ciri mentalitas bangsa Indonesia yang digambarkan oleh Kuncaraningrat ( 1985) sebagai berikut : 1). mentalitas nerabas, 2). Mentalitas yang suka merendahkan mutu, 3). Mentalitas yang tidak percaya pada diri sendiri, 4). Mentalitas yang tidak berdisilin murni dan ; 5). Mentalitas yang suka mengabaikan tanggungjawab. ( Mutakin : 1990).
Kondisi mentalitas ini tidak menutup kemungkinan muncul pada saat ini , dimana Indonesia mengalami 3 perubahan sosial yang cukup ekstrim sekaligus, yaitu perubahan dari 1).Era Orde Baru ke era Reformasi, 2) Era sentralisasi ke era desentralisasi dan, 3). Era region sektoral ke era globalisasi. Padahal dalam mordenisasi diperlukan orang-orang yang menghendaki perubahan ( agent of change ) yang mempunyai pikiran moderen, yakni manusia yang dapat ; belajar untuk memamfaatkan dan menguasai alam sekelilinginya dari pada bersikaf pasrah dan pasif , yakni bahwa keadaan dapat diperhitungkan artinya bahwa orang lain serta lembaga lain dapat diandalkan dalam memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya, tidak setuju dengan pendapat sesuatu yang ditentukan oleh nasib atau watak dan sifat-sifat khusus dari orang-orang tertentu ( Sukamto : 1990 ). Dengan kata lain apabila kita ingin maju perlu adanya kesiapan mental untuk menghadapi perubahan yang terjadi. Kesiapan mental inilah yang mungkin diperlukan dalam menghadapi perubahan sistem pendidikan kita ini sehingga rumusan ideal dari sistem tersebut bisa diimplemtasikan dengan baik di lapangan.
Perubahan sikap mental dalam dunia pendidikan merupakan hal yang yang penting , sebab fasilitas yang lengkap, infrastruktur yang baik, dana yang memadai dan kurikulum yang mantap tidak akan banyak berarti dalam peningkatan mutu pendidikan di negeri ini kalau mentalitas pelaksana dan pengelolanya tidak memiliki mentalitas yang diharapkan dalam tujuan perubahan yang telah direncanakan dan dikehendaki. Intinya dalam masyarakat global saat ini yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perdagangan bebas kualitas sumber daya manusia pendidikan menjadi ukuran utama . Kualitas yang dimaksud tidak hanya dalam segi intelektual saja tapi dari segi mentalitas emosional dan kejernihan hati nurani. Apalgi saat ini semakin terasa bahwa perkembangan masa depan tidak lagi berjalan linier sebagaimana pernah terjadi pada kurun waktu dua dekade . Karena linernya bentuk perubahan zaman selaman dua dekade ini , banyak para akhli meramalkan bahwa menjelang abad ke-21 negara kita termasuk salah satu “ macan “ ekonomi Asia. Tetapi kenyataannya sangat terbalik kita semua tahu apa yang tergambar dengan kondisi ekonomi kita saat ini ?. Mungkin termasuk kondisi pendidikan kita. Ramalan itu meleset , karena pola perubahan zaman yang liner telah berakhir. Oleh sebab itu kita perlu memperhatikan ucapan Rowan Gibson ( dalam Suyanto : 2004 ) dalam bukunya Rethinking The Future , Sebagai berikut : “ The Fast is that the future will not be a continuation of the past, it will be a series of discontinuities”. Untuk itu mengapa diperlukan mentalitas yang mampu membuat perubahan sehingga kondisi di atas tidak berlarut-larut dan bisa diperbaiki.
Dengan diterapkannya konsep virus mental yang bernama n Ach ini diharapkan pelaksanaan sistem pendidikan yang telah dirancang sedemikian idealnya bisa dilaksanakan dengan baik dilapangan. Sehingga tuntutan perubahan kondisi pendidikan kearah yang lebih baik bisa tercapai. Yang jelas apakah virus ini sudah dimiliki oleh seluruh kalangan yang berkiprah di dunia pendidikan ini, dan siap menularkannya sehingga budaya unggul ini menjadi identitas dunia pendidikan kita dan sekaligus menjadi identitas budaya bangsa kita.
Sebagai penutup tulisan ini penulis ungkapkan salah satu contoh penularan virus n Ach yang dilakukan oleh Presiden kita dengan ungkapannya sebagai berikut :
“ Budaya unggul adalah semangat dan kultur untuk mencapai kemajuan dengan cara kita harus bisa, kita harus berbuat yang terbaik kalau orang lain bisa mengapa kita tidak bisa. Kalau Malaysia bisa kenapa kita tidak, kalau ekonomi Cina bisa maju kenapa kita tidak. Kita harus bisa melihat budaya unggul itu ada di Universitas, sekolah, lembaga pemerintah, polisi, militer, provinsi, kabupaten, kota dan lain-lain … sehingga menjadai identitas kelembagaan negara yang diharapkan menjadi budaya nasional… “ We will be the loser in globalization not the winner” Padahal ,” We want to a winner. ( Kompas; 1/12/2005.hl.1,3).

Kesimpulan :
Terbitnya Peraturan pemerintah no 19 thun 2005 sebagai realisasi Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional lahir dari tuntutan pelaksanaan pembaharuan pendidikan yang diharapkan dapat mendukung segala upaya memecahkan permasalahan pendidikan. Upaya pembaharuan ini dalam pelaksanaannya harus didukung oleh kesiapan mental dalam menghadapi perubahan yang telah direncakan dan dikehendaki oleh Undang-undang. Kesiapan mental ini perlu adanya satu bentuk virus mental yaitu semacam rangsangan pada proses berpikir aktif dan kreatif , virus ini dinamakan nAch ( need for Achievment ), yaitu hasrat untuk berprestasi yang lebih tinggi dari apa yang pernah diraihnya sehingga menciptakan budaya unggul dalam dunia pendidikan. Diharapkan dengan virus ini pelaksanan sistem pendidikan kita bisa berjalan dengan baik sehingga permasalahan yang melilit dunia pendidikan kita bisa teratasi. Semoga.
*) Penulis adalah Guru di SMP N 14 Kota Serang

Daftar rujukan :
1.Mutaqin, Awan, Drs, M.Pd. (1990), Antropogi Indonesia, FPIPS IKIP Bdg.
2.Mulyana, Yoyo, Prof.DR. M.Ed. (2005). Mengadapi masalah daya saing PT dan Dunia ( Pidato Rektor pada Dies Natalis XXIV dan Wisuda Sarjana XIII Untirta.
3.Ramzah, Zamsari , (2005). Ketika Pendidikan Mulai langka, Mjl. Gerbang.Ed.12. Thn.ke 5
4.Suyanto, Prof, P.hd. (2004), Inovasi Pembelajaran ( Makalah dalam symposium Nasional Pendidikan ). Tdk dipublikasikan.
5.Soekamto Sarjono, (1990). Sosiologi suatu pengantar, Pt Grafindo Persada , Jakarta
6.Wisudo, Bambang (2004) Pendidikan dasar kurang bermutu. Kompas ( 2004,29 Des k.3,3)
7.Supranata, Sumarna, ( 2004) Menyoal Pengendalin Mutu Pendidikan. Buletin Pusat perbukuan , Vol.10. thn 2004.
8.Surakhmad, Winarno, dkk (2003) Mengurai Benang Kusut Pendidikan , Transpormasi UNJ, Jakarta.
9.……………………………, (2005). Presiden : Budaya unggul lharus jadi identitas kita ( Kompas : Des. 2005 h.11)
10.……………………………, (2006) Penyusunan KTSP, Depenas , Jakarta
11.……………………………., ( 2007) Materi Sosialisasi dan Pelatihan KTSP SMP , Depenas , Jakarta

Contoh Laporan PTK yang Diterbitkan 2

UPAYA MENINGKATKAN PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR
MENDESKRIPSIKAN KONDISI FISIK WILAYAH
MATA PELAJARAN IPS-GEOGRAFI
MELALUI PENGGUNAAN MEDIA POWERPOINT
DI KELAS 8 A SMP NEGERI 14 KOTA SERANG
( CLASSROOM ACTION RESSEARCH CTL)

Oleh : Deni Sopari.
Guru IPS – Geografi
SMP Negeri 14 Kota Serang
( Telah diterbitkan dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Sosila LPPM Untirta 2010 )

Pendahuluan

Joyce, Weil, dan Showers dalam Depenas (2004) menyatakan bahwa hakekat mengajar (teaching) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tekanan dari kegiatan mengajar tetap saja pada siswa yang belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah memfasilitasi siswa dalam belajar agar mereka mendapatkan kemudahan dalam belajar
Sesuai dengan cita-cita dan harapan dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa di dalam merangsang keterlibatan siswa dalam strategi pembelajaran ataupun melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses membuat orang belajar. Tujuannya ialah membantu orang belajar, atau memanipulasi lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang yang belajar. Hamzah Uno (2007). mendefinisikan pembela-jaran sebagai suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dsb. yang secara sengaja dirancang untuk mempenga¬ruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Pembelajaran bukan hanya terbatas pada kejadian yang dilakukan oleh guru saja, melainkan mencakup semua kejadian maupun kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar mengajar. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian yang diturun¬kan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Saat ini pemanfaatan berbagai program komputer untuk pembelajaran, sudah secara meluas digunakan dalam pembelajaran atau dikenal dengan e-learning (electronic-learning), contoh: CAI (Computer Assisted Instruction) atau CAL (Computer Assisted Learning), belajar lewat internet, pendidikan SIG (Sistem Informasi Geografis), web-site sekolah, dll. Segala upaya dan sumber pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa didalam menyerap segala pengetahuan yang didapat, dengan ukuran yang telah ditentukan oleh pemerintah dengan dikembangkannya konsep standar penguasaan minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik., dengan demikian rendahnya daya serap yang berujung kepada rendahnya prestasi siswa bisa dihindarkan.
Rendahnya daya serap atau prestasi belajar, atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa, sebenarnya inti persoalannya adalah pada masalah “ketuntasan belajar” yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi atau unit bahan ajaran secara perorangan. Masalah ketuntasan dalam belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Pembelajaran tuntas (mastery learning) sendiri diartikan sebagai sistem pembelajaran yang mengharapkan setiap siswa harus mampu menguasai kompetensi-kompetensi dasar (basic learning objectives) secara tuntas, yakni sekurang-kurangnya harus mencapai skor minimal 75 %. ( Depenas : 2004 )
Rendahnya pencapaian ketuntasan belajar merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh para pengajar , kecenderungan rata-rata ketuntasan yang dicapai oleh siswa kurang memuaskan dan di bawah Kriteria Ketuntasan yang sudah ditentukan, hal ini berpengaruh juga kepada banyaknya siswa yang tidak bisa menuntaskan belajarnya.. Hal ini terjadi juga dalam mata pelajaran IPS-Geografi di kelas 8 terutama menyangkut ketuntasan Kompetensi dasar mendeskripsikan kondsi fisik wilayah yang kecenderungan banyak materi yang abstrak yang membuat siswa menjadi jenuh . Padahal materi ini menuntut motivasi tinggi dari siswa untuk mampu menterjemahkan konsep abstrak tersebut ke konsep konkrit sehingga tidak terjadi verbalisme. Hal ini didukung oleh data dari tahun ajaran sebelumnya pencapai kompetensi dasar ini sebelumnya belum menunjukkkan hasil yang memuaskan . Hal ini tampak dari hasil evaluasi setelah menyelesaikan pembelajaran. Pada umumnya siswa mengalami kesulitan, sehingga dalam pencapaian ketuntasan kompetensi dasar tersebut siswa yang tuntas hanya mencapai 40 % dengan rata-rata nilai 56.75 dari KKM 60 untuk penguasaan konsep untuk bidang studi IPS yang ditentukan pada tahun ajaran 2007/2008 di SMP Negeri 14 Kota Serang jadi bisa di katakan hampir 60 % siswa tidak tuntas. Dilain pihak pada tahun ajaran 2008/2009 KKM untuk penguasaan konsep IPS di SMP Negeri 14 Kota Serang ditentukan , yaitu 65 untuk penguasaan konsep 70 untuk keterampilan social . Apalagi kalau dihubungkan dengan target mencapai ketuntasan yang diharapkan oleh seorang siswa dalam menguasai materi ideal yang ditetapkan dalam aturan standar nasional yaitu 75% ( Depenas : 2004 ), . Tuntutan kurikulum 2006 atau KTSP dalam hal “ketuntasan belajar” minimal 75 %. ini menyangkut pencapaian tarap penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi atau unit bahan ajar secara perorangan ( Depnenas : 2004 ). Oleh sebab itu masalah ketuntasan dalam belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Hal ini terlihat juga pada saat proses pembelajaran, kondisi siswa kurang respon terhadap materi yang disampaikan mereka kecenderungan pasif. Kondisi semacam ini jika dianalisis banyak faktor penyebabnya salah satunya terbatasnya kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak tentang letak, iklim dan musim .
Menyadari banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kekurang berhasilan, maka dalam pembelajaran materi yang mendukung pencapaian Kompetensi Dasar mendeskripsiskan hubungan kondisi fisik wilayah perlu dikaji faktor utama yang memungkinkan sebagai penyebab kesulitan yang dihadapi siswa. Melalui pengkajian dapat ditemukan dan sekaligus ditentukan langkah – langkah untuk memperbaikinya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki system pembelajaran antara lain dengan memanfaatkan media peta dan globe semaksimal mungkin untuk simulasi, perubahan penyampaian materi pembelajaran , penambahan tugas mengerjakan LKS, tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama dalam menigkatkan pencapaian Kompetensi Dasar tersebut. Atas dasar kenyataan yang demikian, maka perlu dicari alternative lainnya dengan melakukan inovasi –inovasi baik dalam metode penyampaian maupun penggunaan fasilitas media serta pemanfaatan komputer sebagai media untuk meningkatkan ketercapaian Kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah.

Penggunaan media powerpoint yang merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit ( Kenthut : 2004 ). Sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketercapaian kompetensi dasar tentang kondisi fisik wilayah di kelas 8 SMP Negeri 14 Kota Serang . Penggunaan media ini belum banyak dilakukan dalam peningkatan pencapain Kompetensi Dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah.
Tujuan dan Mamfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan , Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk menemukan media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam memahami konsep-konsep abstrak dalam kompetensi dasar kondisi fisik wilayah yang hasil akhirnya mampu meningkatkan pencapaian Kompetesi dasarnya.
Mamfaat yang ingin dicapai adalah bertambahnya wawasan pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam media pendidikan geografi serta dapat diaplikasi secara praktis di kelas sebagai salah satu bentuk media pembelajaran di ruang kelas, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak dalam materi kondisi fisik wilayah. Dengan demikian inovasi yang telah ditemukan dapat digunakan dalam pengajaran geografi yaitu terhindarnya siswa dalam verbalisme dalam materi geografi
Perencanaan Tindakan
Identifikasi Masalah
Berdasarkan fakta di lapangan penguasaan siswa kelas 8 terhadap kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi wilayah menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang tidak mampu mentuntaskan kompetensi dasar ini dan rata-rata pencapaian kompetensi dasar yang masih di bawah KKM yang sudah ditentukan. Kondisi ini apabila dibiarkan berlarut-larut akan berdampak pada pencapaian ketuntasan mata pelajaran . Padahal masalah ketuntasan belajar merupakan masalah penting sebab menyangkut masa depan siswa, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Untuk mengatasi permasalah tersebut , peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas dalam upaya meningkatkan pencapaian kompetensi dasar mendeskripsikan wilayah mata pelajaran IPS-Geografi melalui penggunaan media powerpoint di kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang.

Analisis dan Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang ditemukan pada pembelajaran pencapaian Kompetensi Dasar ( KD) mendeskripsikan kondisi fisik wilayah di kelas 8 SMP Negeri 14 Kota Serang, peneliti mencoba mencari penyebab mengapa siswa banyak yang tidak tuntas dan rata-rata pencapaian kompetensi dasar masih rendah dibawah KKM yang telah ditentukan.. Dari pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil analisis masalah sebagai berikut ,
1.Siswa belum memahami konsep-konsep abstrak yang tersaji dalam materi mendeskripsiskan kondisi fisik wilayah yang muncul kecenderungan verbalisme.
2.Aktivitas guru dalam menjelaskan materi lebih didominasi dengan metode ceramah dibandingkan dengan metode lainnya dan siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran
3.Penggunaan alat bantu globe dan atlas yang selama ini digunakan dalam pembelajaran materi mendeskripsikan kondisi fisik wilayah kurang begitu menarik perhatian siswa.

Berasarkan latar belakang dan identifikasi masalah , dapat diambil rumusan masalah :
” Apakah penggunaan powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi dasar kondisi fisik wilayah di Kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang .”
Rencana Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka disusun rencana tindakan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Rencana perbaiakan disusun dalam bentuk siklus yang saling berkelanjutan , yaitu sebagai berikut :

1. Siklus 1
Pada siklus pertama ini dimulai dengan fase memberikan rangsangan dengan menampilkan powerpoint tentang kondisis fisik wilayah yang dibantu dengan in focus dan komputer yang telah diisi dengan program pembelajaran di tiap-tiap kelompok , dengan tujuan membangkitkan rangsangan keingintahuan pada diri siswa yang juga penciptaan suasana baru dan peneliti hanya menginginkan pemahaman siswa dalam penggunaan media powerpoint .
Selama siklus pertama berlangsung , kolaborator mengamati tindakan yang dilakukan oleh guru/peneliti dan mendata hasil dan kemajuan yang dicapai siswa dengan menggunakan perangkat monitoring (untuk guru) dan evaluasi ( untuk siswa )
Berdasarkan data hasil pengamatan baik melalui catatan maupun rekaman video , maka hasil catatan peneliti dikoordinasikan dengan kolaborator untuk mengetahui kelancaran proses pembelajaran.
Apabila dalam siklus pertama peningkatan prosentase ketuntasan siswa belum nampak berarti , maka peneliti akan melakukan tindakan berikutnya dengan melakukan siklus ke dua tanpa mengesampingkan hasil yang sudah dialami pada tindakan /siklus sebelumnya.

2. Siklus 2
Dengan merefleksi dari hasil pada siklus pertama, kita dapatkan kekurangan / kelemahan dan kelebihan/keunggulan. Untuk memperbaiki kekurangan / kelemahan dan lebih menguatkan kelebihan / keunggulan yang sudah ada pada siklus pertama, dilakukan tindakan /siklus berikutnya ( ke dua) dengan tujuan adalah lebih mengerucut kepada perbaikan motivasi dan hasil belajar dalam pemahaman konsep dengan menggunakan media powerpoint
Diharapkan setelah siklus ke dua ini , target dari tujuan yang hendak dicapai yaitu meningkatkan peningkatan pencapaian Kompetensi Dasar Kondis wilayah dapat tercapai. Dimana hasil ini akan berdampak pada pencapaian ketuntasan Standar kompetensi yang telah ditentukan melalui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan di lingkungan SMPN 14 Kota Serang untuk Bidang Studi IPS khususnya mata pelajaran IPS – Geografi.
Hipotesis Tindakan
Apabila guru menggunaan media powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah di kelas 8 A SMP Negeri 14 Kota Serang
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
1. Tempat pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 14 kota Serang yang sebelumnya bernama SMP Negeri 6 Serang yang beralamat di Jalan Kagungan No. 7 Serang. Subjek penelitian ini , yaitu siswa kelas 8 A dengan jumlah siswa 40 siswa, yang terdiri 22 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Dengan melibatkan satu orang kolaboran dari guru pengajar IPS kelas 7.

Prosedur Pelaksanaan

Prosedur PTK ini menggunakan prosedur dari Kurt Lewin. Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu ; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus .
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus lanjutan direncanakan berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya sehingga masing-masing siklus saling berkaitan . Siklus berikutnya merupakan modifikasi dari siklus sebelumnya untuk mencapai hasil yang lebih baik . Dengan kata lain kekurangan dan kelemahan yang ditemui dalam satu siklus dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk siklus selanjutnya.
HASIL PENELITIAN
1. Siklus 1
Hasil kegiatan penelitian ini menekan kepada dua aspek yaitu :
a. Rata-rata peningkatan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Setelah dilakukan tindakan-tindakan pada siklus 1, terdapat perubahan dalam peningkatan pencapaian kompetensi dasar kondisi fisik wilayah pada sub materi pokok pembelajaran letak geografis Indonesia Indonesia . Hal ini terlihat dari hasil test yang dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir dan hasilnya dibandingkan dengan hasil sebelumnya . Didapat hasil adanya peningkatan rata-rata kelas dalam peningkatan pencapaian kompetensi dasar yaitu terjadi peningkatan 8,75. Kalau dihubungkan dengan target pencapaian KKM yang telah ditentukan di SMP Negeri 14 Kota Serang pada tahun ajaran 2007-2008 rata-rata hasil penelitian ini telah melampai 0,0,5 .
Peningkatan pencapain kompetensi dasar dalam materi pokok ini terlihat dari skor jawaban yang diberikan oleh siswa tentang posisi geografis Indonesia rata-rata menjawab benar ( 90% ) atau mampu menjawab benar 4 yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 4 soal dari 5 soal yang diajukan sedangkan untuk nomor 5 dengan pertanyaan ” Bagaimana pengaruh posisi geografis siswa yang menjawab sempurna 50% ( menjawab dengan benar 3 pengaruh posisi geografis ) ,40% kurang sempurna ( menjawab 2 jawaban ) dan tidak sempurna ( menjawab 1 atau tidak sama sekali memberikan jawaban ) . Hasil test dari sub pokok materi posisi geografis yang cukup menggembirakan ini dimungkinkan karena siswa terlebih dahulu diberikan pengertian letak dan posisi Indonesia secara berurut mulai dari posisi bumi dalam sistem tata surya, letak dan posisi Indonesia dalam bola bumi dan akhirnya ditampilkan posisi Indonesia dalam peta dalam bentuk sebenarnya di lapangan. Sehingga siswa dengan melihat tampilan tersebut mampu menyimpulkan posisi. Tampilan powerpoint pada siklus 1 terdiri dari ; posisi bumi dalam tata surya, posisi Indonesia di bola bumi,skema garis lintang dan garis bujur, nama dan kedudukan garis hayal dalam globe, pembagian waktu
b. Peningkatan jumlah ketuntasan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Peningkatan pencapaian kompetensi dasar pada siklus 1 ternyata berpengaruh terhadap peningkatan jumlah siswa yang mampu menuntaskan kedua indikator ini, ketuntasan mata pelajaran IPS untuk pemahaman konsep pada tahun ajaran 2008 – 2009 yang ditetapkan di SMP Negeri 14 Kota Serang adalah 65 .Banyaknya siswa yang mampu menuntaskan materi dengan KKM 65 pada siklus 1 sebanyak 26 orang dari 40 peserta didik dengan rincian jumlah siswa yang tuntas mencapai 26 siswa dari 40 peserta didik atau mencapai 65 % . Pencapaian ini apabila dibandingkan dengan data awal penelitian mengenai jumlah siswa yang berhasil tuntas pada kompetensi dasar tentang kondisi fisik wilayah ini yang hanya mencapai 40 % dari peserta didik, berarti ada peningkatan dari 40 % siswa menjadi 65 % atau terjadi kenaikan 25 %. Atau ada peningkatan dari 16 siswa menjadi 24 siswa atau terjadi peningkatan 10 orang siswa.
Catatan lain dari siklus adalah terjadinya perubahan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan powerpoint ini berdasarkan pengamatan baik yang dilakukan oleh peneliti maupun kolaboran, terjadi perubahan aktifitas. Siswa terlihat lebih antusias dalam mengikuti materi, hal ini dimungkinkan dengan tampilan powerpoint dengan segala pareasinya mampu meningkatkan perhatian siswa dilain pihak media powerpoint ini merupakan media baru.
Hal ini terlihat hampir semua siswa ingin mencoba langsung mengoperasikan program powerpoint ini di komputer yang ada dikelompoknya bahkan kecenderungan saling ingin paling duluan mencoba. Keingintahuan akan materi ini terlihat dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa mengenai tampilan-tampilan yang tersaji dalam powerpoint. Kondisi ini di dukung oleh pendapat siswa yang terjaring dalam jajak pendapat mengenai pembelajaran dengan menggunakan media powerpoint terekam
Dari rubrik pertanyaan terlihat bahwa sebagian besar siswa berpendapat bahwa mereka lebih memahami terhadap konsep-konsep abstrak yang ada pada materi kondisi fisik wilayah, hal ini terlihat dari persentase pilihan lebih jelas memahami konsep yang kurang jelas mencapai 98 % atau 38 siswa dari 40 siswa setuju dengan pernyataan kejelasan konsep abstrak tersebut. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan siswa bahwa dengan menggunakan powerpoint ini mereka lebih terfokus ( 98%) hal ini akibat dari ketertarikan mereka terhadap tampilan-tampilan dipowerpoint yang notabene baru mereka lihat, sehingga belajar lebih menyenangkan dan tidak jenuh . Sedangkan sebagian siswa berpendapat bahwa dengan menggunakan powerpoint lebih susah karena harus mampu mengopersikan komputer terutama aplikasi powerpoint (37.5 %), sulit menterjemahkan gambar dalam powerpoint dan 15% berpendapat lebih ruwet dan susuah dimengerti . Kenyataan ini memang terlihat pada saat diskusi menyelesaikan kertas kerja, sebagian siswa kelihatannya pasif dan hanya sebagai pemerhati saja. Keadaan ini diminimalisir dengan adanya intervensi peneliti dengan langsung membantu kepada siswa yang masih kesulitan di dalam mengoperasikan komputer. Kondisi lain dalam penggunaan powerpoint ini masih adanya kelompok yang sulit membagi tugas, masih adanya kecenderungan pendominasian oleh seseorang di dalam mencari jawaban yang tersaji di powerpoint. Pada saat presentasi disini juga terlihat masih saling tunjuk siapa yang harus tampil sehingga memakan waktu. Kekurangan-kekurangan tersebut dicari alternatif pemecahannya . Alternatif tersebut digunakan dalam persiapan siklus selanjutnya.
2. Siklus 2
Dalam kegiatan pengamatan pada siklus 2 ini peneliti sama menekankan kepada dua aspek yaitu :
a. Rata-rata peningkatan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Rata-rata motivasi siswa dalam pembelajaran pada siklus 2 ada peningkatan ini ditandai dengan adanya :
Pada siklus ke dua diketahui pada hasil test yang dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir, terjadi peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar untuk pencapaian dua indikator musim dan persebaran flola fauna di Indonesia , yaitu meningkat dari 65,5 menjadi 72,12 atau terjadi peningkatan sebesar 18,3

Materi yang di coba divisualisasikan dalam power poin pada siklus ke 2 ini adalah tentang musim di Indonesia dengan indikator siswa mampu mengidentifikasikan penyebab terjadinya perubahan musim dan menentukan bulan berlangsungnya musim hujan dan musim kemarau di wilayah Indonesia dan pencapaian indikator mampu menginformasikan persebaran flora dan fauna tife Asia , Australia serta kaitannya dengan pembagian wilayah Wallacea dan Webber.Tampilan powerpoint pada siklus 2 meliputi : model perputaran bumi terhadap matahari, sketsa peredaran semu matahari, skema angin musim barat laut dan angin musim timur laut, peta pembagian fola dan fauna di Indonesia dan contoh gambar fauna di tiap wilayah.

b. . Peningkatan jumlah ketuntasan pencapaian kompetensi dasar (KD) kondisi fisik wilayah.
Peningkatan rata-rata kompetensi dasar pada siklus ke dua ini, mempengaruhi jumlah siswa yang mampu mentuntaskan materi yang di tetapkan yaitu 65 untuk penguasaan konsep, bahkan beberapa siswa mampu melampaui batas KKM yang sudah ditentukan. Hal ini terlihat dari data hasil test untuk 2 materi ini,

Berdasarkan analisis pada siklus 2 didapatkan kemajuan-kemajuan diantaranya; terjadinya peningkatan pencapaian rata-rara kompetensi dasar. yaitu meningkat dari 65,5 dari siklus ke-1 menjadi 72,12 pada siklus ke 2 atau terjadi peningkatan sebesar 18,3. Peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar ini berpengaruh terhadap jumlah siswa yang berhasil menuntaskan pencapaian kompetensi dasar yang berpedoman kepada kriteria ketuntasan materi ( KKM) yang telah ditentukan untuk mata pelajaran IPS terutama untuk pencapaian konsep yaitu 65.
Dengan rincian siswa yang mendapatkan nilai dari 75 ke atas terdapat 15 orang, antara 65 sampai dengan 74 terdapat 20 siswa dan di bawah 65 terdapat 5 orang siswa. Dengan demikina terjadi peningkatan jumlah yang berhasil tuntas dari 65% menjadi 87,5 % atau terjadi peningkatan 22,5 %
Dilihat dari segi proses terutama pada aktifitas siswa, pencapaian yang cukup signifikan baik dari peningkatan pencapaian rata-rata kompetensi dasar dan jumlah siswa yang tuntas. Didukung oleh kondisi pembelajaran yang kondusif, hal ini setelah di adakan tindakan-tindakan perbaikan pada siklus 2. Diantaranya meratanya siswa yang mampu mengoperasikan komputer ditiap kelompok, kejelasan pembagian tugas tiap kelompok, kesiapan siswa dalam menghadapi materi baru karena sudah dipersiapkan sebelumnnya, komputer yang tidak berfungsi sudah bisa digunakan sehingga tidak berebut. Dari perbaikan kondisi pembelajaran ini siswa lebih terpokus mengerjakan tugas kelompoknya. Ketika saat presentase, penunjukan wakil kelompok untuk mempresentasekan, hampir semua kelompok mengacungkan tangan . Dan ketika siswa yang terpilih mewakili salah satu kelompok, berdasarkan pengamatan sudah mampu dengan baik mengoperasikan aplikasi powerpoint dan menjelaskan materi di dalamnya.
Dalam sesi tanggapan terhadap hasil diskusi animo siswa cukup tinggi hal ini terlihat dari pengamatan , banyak siswa yang ingin mengomentari, bertanya bahkan menambahkan materi yang dipresentasekan.

Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan baik dari kolaborator, angket siswa hasil monitoring nilai proses siswa dapat dinyatakan bahwa penggunaan media powerpoint mampu meningkatan pencapaian kompetensi dasar ( KD ) mendeskripsikan konsisi fisik wilayah
Masalah yang ada pada saat kegiatan pembelajaran mendeskripsikan kondisi fisik wialayah yaitu rendahnya pencapaian rata-rata kompetensi dasar dan banyaknya siswa yang tidak mampu mentutaskan kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah, khususnya di kelas 8A SMP Negeri 14 Kota Serang sudah dapat diubah. Dengan diterapkannya penggunaan media powerpoint dalam pembelajaran materi konsisi fisik wilayah.
Dari hasil pengamatan pada siklus ke-1 rata-rata peningkatan ketuntasan siswa dibandingkan dengan sebelum tindakan masih rendah yaitu hanya 8,75 , sebagian besar siswa masih terlena dengan tampilan-tampilan yang tersaji dalam powerpoint, hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan yang sifatnya analisis banyak siswa yang mengalami kesulitan. padalah dalam pembelajaran dengan menggunakan media powerpoint ini diharapkan siswa mampu memprediksikan tampilan-tampilan gambar/flas yang tersaji dan mampu menghubungkan antara satu konsep dengan konsep sehingga dapat menyimpulkan gejala-gejala yang terjadi pada kajian materi konsisi fisik wilayah.yang menjadi indikator bahwa siswa sudah mampu memahami konsep-konsep abstrak manjadi nyata.. Kondisi ini tidak terlepas dari kesiapan siswa, terutama dalam kesiapan materi awal siswa. Disamping itu penggunaan media powerpoint ini masih baru, sehingga banyak siswa yang lebih terfokus kepada tampilan powerpoint dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Pada siklus ke-2 setelah diadakan perbaikan terhadap kekurangan yang terjadi pada siklus 1, terutama dalam kesiapan materi, pembagian kelompok terjadi perubahan hampir seluruh kelompok mampu menyelesaikan tugas . Aktivitas siswa yang terekam dalam monitoring penilaian proses sebagai salah satu indikator untuk menilai motivasi siswa selama pembelajaran dengan mengggunakan media powerpoint juga mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, ini ditandai dengan aktifnya setiap siswa dalam menyesaikan tugas kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing serta munculnya pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan-tanggapan terhadap hasil presentase yang disampaikan oleh temannya dari kelompok lain dan yang paling penting siswa sudah terkondisikan dengan penggunaan media powerpoint ini . Kondisi yang kondusif ini berpengaruh terhadap peningkat rata-rata pencapaian hasil belajar yaitu meningkat menjadi 72.12.
Peningkatan rata-rata pencapaian kompetensi dasar dan peningkatan jumlah siswa yang berhasil mentuntaskan kompetensi dasar ini, terlihat dari kesimpulan meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa dari 65,5 dari siklus ke-1 menjadi 72,12 pada siklus ke 2 .Peningkatan rata-rata pencapaian indikator ini apabila dirata-ratakan dapat mewakili pencapaian rata-rata peningkatan ketuntasan kompetensi dasar keadaan fisik wilayah yaitu 4 dari lima indikator yang ada pada kompetensi dasar ini. Rata-rata pencapaian dari 4 indikator ini adalah 68,81. Kondisi peningkatan pencapaian kompetensi dasar ini berpengaruh juga terhadap jumlah siswa yang tuntas yaitu terjadi kenaikan 22,5% yaitu dari 65 % ke 87,5 % . Artinya apabila dirata-ratakan jumlah siswa yang tuntas pada siklus 1 dan 2 mencapai 76,25 % atau sebanyak 31 siswa dari 40 siswa
Perlu diperhatikan dalam pembelajaran yang mengunakan media powerpoint ini pengajar dituntut untuk membuat tampilan-tampilan yang menarik dan sistematik, artinya tampilan yang dikemukakan hendaknya tidak monoton tetapi ada variasi tampilan, hal ini bertujuan selain untuk menarik perhatian siswa, pemvisualitasan konsep-konsep abstrak akan lebih efektif. Sedangkan sistematik artinya tampilan tersebut harus terurut dengan baik, sehingga siswa akan mampu menghubungkan satu konsep dengan konsep lain dalam satu kompetensi dasar . Dengan demikian diharapkan siswa kan mampu membuat kesimpulan dari kompetensi dasar yang sedang di kaji.
Keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran khususnya pencapaian kompetensi dasar ternyata sangat di pengaruhi oleh kemampuan seorang guru di dalam menciptakan kondisi-kondis yang mampu menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Penciptaan kondisi-kondisi yang mendukung terhadap pencapai tujuan salah satunya adalah sajauhmana seorang pendidik mampu menampilkan suatu media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkannya.
Pelajaran IPS khususnya IPS – Geografi dilihat dari karakter materinya merupakan salah satu mata pelajaran kecenderungan mengkaji konsep abstrak dan keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa, salah satu muncul dalam kompetensi dasar mendeskripsikan kondisi fisik wilayah. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk memahami konsep-konsep abstrak tersebut dan mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya yang akhirnya menimbulkan verbalisme pada diri siswa
Media powerpoint merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media. Yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit, memberikan alternatif bagaimana seorang pembelajar menggunakan pengingat-pengingat visual dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan. Dan yang jelas pengunaan media power poin ini akan menumbuhkan kesenangan dan ketenangan bagi siswa, dan penyakit verbalisme yang selama ini menjadi masalah dalam pelajaran IPS-geografi yang menyangkut konsep-konsep abstrak bisa ditanggulangi.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas 8 A untuk Kompetensi Dasar mendeskripsikan kondisi wilayah pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2008 – 2009 di SMP Negeri 14 Kota Serang. maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan Media Powerpoint dapat meningkatkan pencapaian Kompetensi Dasar ( KD ) mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dalam mata pelajaran IPS-Geografi . Hal ini terlihat dari hasil monitoring penilaian sebagai salah satu indikator adanya peningkatan pencapaian kompetensi dasar.yaitu :
1.Terjadi peningkatan rata-rata pencapaian nilai setelah proses pembelajaran terjadi pada siklus 1 rata-rata 65,5 menjadi 72,12 pada siklus 2., atau terjadi peningkatan 18,3. Apabila pencapaian nilai tersebut dirata-ratakan maka didapatkan nilai rata-rata pencapain kompetensi dasar setelah tindakan sebesar 68,81. Hal ini artinya penelitian ini membuktikan bahwa dengan menggunakan media power poin pencapaian kompetensi dasar siswa meningkat. Terlihat dari hasil penelitian dari indikator kinerja penelitian yang ditargetkan rata-rata pencapaian kompetensi dasar untuk kelas 8A minimal mencapai 65 sudah tercapai bahkan lebih 3,81. Begipula apabila dibandingkan dengan rata-rata pencapaian kompetensi dasar sebelum diadakan tindakan terjadi peningkatan dari 56,75 menjadi 68,81 atau terjadi peningkatan rata-rata 12,06
2.Terjadinya peningkatan jumlah siswa yang tuntas , yaitu pada siklus 1 mencapai 65 % meningkat menjadi 87,5 % atau dari yang tuntas sebanyak 26 siswa menjadi 36 siswa dari 40 siswa. Apabila dirata – ratakan dari siklus 1 dan 2 mencapai 76,25% sebanding dengan 31 siswa dari 40 siswa.
3. Media powerpoint merupakan salah satu aplikasi penggunaan komputer di lihat dari karakteristik dan nilai praktis sebagai media. Yang salah satunya dapat membuat konsep abstrak menjadi konkrit. Terbukti dari hasil penelitian mampu meningkatkan pencapaian kompetensi dasar kondisi fisik wilayah dan menumbuhkan motivasi baru siswa untuk lebih terfocus dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal tersebut karena media ini mampu memusatkan pikiran siswa dengan tampilan-tampilannya.
Saran-saran
1.Dalam penggunaan media powerpoint perlu memperhatikan kemampuan siswa dalam mengoperasikan komputer, sebab tidak setiap siswa memiliki kemampuan tersebut. Hal ini penting untuk pembentukan kelompok.
2.Komputer yang digunakan hendaknya memenuhi syarat dapat digunakan untuk mengoperasikan powerpoint dan flas media.
3.Media powerpoint dengan vareasi model pembelajaran dapat digunakan pada pelajaran lain khususnya rumpun IPS ( Sejarah dan Ekonomi ).
4.Disarankan kepada rekan-rekan pengajar yang tertarik dengan pengembangan media powerpoint dalam proses pembelajaran ini, untuk lebih mengembangkan vareasi-vareasi yang lebih menarik sehingga materi-materi yang sifatnya abstrak yang berujung kepada munculnya verbalisme dalam pembelajaran bisa diatasi dengan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

1.Kentut,Drs. 2004. Prinsif Pengembangan Media, Pustekom. Jakarta.
2.Nasution, Prof,Dr,MA. 1986. Didaktik Asas Mengajar, Bandung Jemmars.
3.Sapriya. Dkk, 1999, Studi Tentang Media Pembelajaran Nilai dalam mata pelajaran PPKN di SLTP dan SMU Bandung ( Laporan penelitian, tidak diterbitkan. )
4.Surakmad, Winarno. 1982. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar : Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran, Bandung. Tarsito.
5.Sadiman, Arief dkk. 1996. Media Pendidikan , Jakarta, Pustekom Dikbud dan PT Raja Grafindo Persada.
6.Sudjana Nana, DR. 1987. Proses Belajar Mengajar, Jurusan Teknologi Pendidikan IKIP Bandung.
7.Uno Hamzah.B, Prof, DR, M.Pd. 2007. Model Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif , Jakarta, Bumi Aksara.
8…………………………….. , Pedoman Pembelajaran Tuntas, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
9.http://www.ditplb.or.id/new/index.php, Model- model Penelitian Tindakan Kelas . Direktorat Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta.

Dimensi Pendidikan IPS

By : Deni Sopari

Pencapaian pendidikan IPS di persekolahan diperlukan pemahaman dan pe ngembangan program pendidikan yang komprehensip. Program pendidikan IPS yang komprehensif menurut Sapriya ( 2009 : 48-56 ),
yaitu program yang mencakup empat dimensi, yaitu :

a.Dimensi Pengetahuan ( Knowledge ).
Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide. Tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisiknya dan dunia sosial. Dimensi yang menyangkut pengetahuan sosial mencakup: (1) fakta; (2) konsep; dan (3) generalisasi yang dipahami siswa.
b.Dimensi keterampilan ( Skill ).
Keterampilan adalah pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. Keterampilan ini dalam IPS terwujud dalam bentuk kecakapan mengolah dan menerapkan informasi yang penting untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang mampu berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Keterampilan tersebut mencakup: Keterampilan meneliti, keterampilan berpikir, keterampilan partisipasi sosial dan keterampilan berkomunikasi.
c.Dimensi nilai dan sikap ( value and attitude )
Merupakan seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang terungkap ketika berpikir dan bertindak. Nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dianggap penting dengan tindakan yang tepat. Sedangkan sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinan-keyakinan,interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu.
d.Dimensi tindakan ( Action )
Tindakan sosial ini merupakan dimensi IPS yang penting karena tindakan sosial dapat memungkinkan siswa menjadi peserta didik yang aktif, dengan jalan ; berlatih secara kongkret dan praktik, belajar dari apa yang diketahui dan dipikirkan tentang isu-isu sosial untuk dipecahkan sehingga jelas apa yang dilakukan dan bagaimana caranya dengan demikian siswa akan belajar menjadi warga negara yang efektif di masyarakat.

Sehubungan dengan keempat dimensi pendidikan IPS menurut Kenworthy ( Depenas, 2007: 14 ) terdapat tiga karakteristik tujuan IPS, yaitu : Pendidikan kemanusiaan, kewarganegaraan dan intelektual. Pendidikan kemanusiaan memiliki arti bahwa IPS harus membantu anak memahami pengalamannya dan menemukan arti atau makna dalam kehidupannya. Dalam tujuan pertama ini terkandung unsur pendidikan nilai. Pendidikan kewarganegaraan mengandung arti bahwa siswa harus dipersiapkan untuk berpartisipasi secara efektif dalam dinamika kehidupan masyarakat. Siswa memiliki kesadaran untuk meningkatkan prestasinya sebagai bentuk tanggung jawab warga negara yang setia pada negara. Pendidikan nilai dalam tujuan ini lebih ditekankan pada kewarganegaraan. Pendidikan intelektual mengandung arti bahwa anak membutuhkan untuk memperoleh ide-ide yang analitis dan alat-alat untuk memecahkan masalah yang dikembangkan dari konsep-konsep ilmu sosial. Dalam memecahkan masalah anak akan dihadapkan pada upaya mengambil keputusan sendiri.

Hal senada diungkapkan juga oleh Hasan ( 1996:98 ) bahwa tujuan pendidikan ilmu-ilmu sosial dikelompokan dalam tiga kategori, yaitu ; pengembangan kemampuan intelektual siswa, pengembangan kemampuan dan rasa tanggungjawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri peserta didik sebagai individu.
Tidak jauh berbeda dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi disebutkan bahwa tujuan pendidikan IPS adalah : ( 1 ) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan; (2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis , rasa ingin tahu , inkuiri, pemecahan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial; ( 3 ) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan ; dan (4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan kompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global. Sementara itu Mutaqin ( Puskur, 2004 : 15 ) mengatakan bahwa tujuan utama mengajarkan IPS pada peserta didik adalah menjadikan warganegara yang baik, melatih kemampuan berpikir matang untuk menghadapi permasalahan sosial dan agar mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya.

Secara khusus tujuan pendidikan IPS untuk tingkat SMP Sapriya ( 2009 : 201 ) diarahkan kepada :
a.Mengenal konsep-konsep yang bekaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b.Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c.Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d.Memiliki kemampuan berkomunikasi , bekerja sama dan kompetisi dalam masyarakat majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hakekat pembelajaran IPS khususnya ditingkat SMP adalah upaya untuk mengembangkan keterampilan inteletual, memahami nilai sosial dan berkomunikasi. Berkembangnya tiga kemampuan tersebut diharapkan siswa akan mampu membuat keputusan–keputusan, sehingga mereka mampu memecahkan masalah pribadinya dan membentuk kebijakan umum dengan cara berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kemampuan dalam memecahkan masalah memerlukan keterampilan berpikir pada diri siswa.
Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pribadi maupun umum menuntut adanya pelayanan dari pihak sekolah yang lebih khusus mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya, dalam hal ini untuk pembelajaran IPS di setiap sekolah khususnya di tingkat SMP. Dengan pelayanan yang tepat diharapkan siswa dapat diajak belajar IPS dalam tingkat perkembangannya dan hakekat mata pelajaran yang dipelajari, sehingga apa dipelajari siswa bermakna bagi mereka atau istilah lain menghasilkan belajar yang bermakna ( meaningful learning ) dan memberikan hasil yang maksimal. Stahl ( Mipsos, 2009), menyatakan ada beberapa prinsip yang harus dipedoman dalam pembelajaran IPS sehingga pembelajaran IPS memberikan hasil yang maksimal, yaitu:
a.IPS yang baik jika bermakna (Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful). Pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan ide-ide yang penting dalam memahami, mengapresiasikan dan menerapkannya dalam kehidupan.
b.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang terintegrasi ( Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, keyakinan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, d) melalui lintas kurikulum
c.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang berbasis nilai (Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based). Kekuatan pembelajaran IPS dengan mempertimbangkan berbagai dimensi atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial.
d.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang menantang (Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging). Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berpikir siswa yang menantang.
e.Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang aktif (Social studies teaching and learning are powerful when they are active). Pembelajaran IPS yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berpikir reflektif dan membuat keputusan (decision making) selama pembelajaran. (http://mipsos.wordpress.com

Konsep Pembelajaran IPS Suatu Pengantar

By : Deni Sopari, M.Pd
Dalam setiap pertemuan MGMP IPS sering muncul perdebatan yang cukup alot tentang perbedaan antara ilmu-ilmu social yang dikenal dengan, geografi, ekonomi, sejarah dan sosiologi dan IPS yang dikenal sebagai gabungan dari ilmu-ilmu social. Akibatnya di lapangan masih terjadi dualisme penerapan. Untuk menyamakan persepsi antara guru-guru IPS terutama di lingkungan kota Serang. Di bawah ini penulis sajikan apa sebenarnya konsep IPS itu . Nah selamat menyimak….

Istilah ” Ilmu Pengetahuan Sosial ”, disingkat IPS merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah ”social studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain seperti Australia dan Amerika Serikat ( Sapriya, 2009:19 ).
Di tingkat persekolahan terdapat banyak persepsi tentang istilah IPS ini, ada yang berpendapat IPS merupakan matapelajaran yang berdiri sendiri, ada yang mengartikan gabungan dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu dan ada yang mengartikan program pengajaran. Perbedaan persepsi itu tidak terlepas dari sejarah perkembangan pengertian IPS itu sendiri dan perbedaan pandangan para ahli mengenai nama untuk bidang studi ini, ada yang setuju dengan nama social studies yang diterjemahkan Pengetahuan Sosial ada yang lebih setuju dengan social science yang berarti Ilmu Pengetahuan Sosial. Pihak yang setuju dengan istilah social studies memfokuskan kajiannya pada fenomena, isu dan masalah-masalah sosial, sedangkan yang setuju dengan social science memfokuskan kajian pada disiplin ilmu ( Erliany,2007:30). Somantri ( 2001:73 ) perbedaan antara Ilmu-ilmu Sosial ( Social Science ) dengan pendidikan IPS ( Social Science Education, Social Studies) bukanlah perbedaan yang prinsipil, melainkan hanya perbedaan gradual. Menurutnya Ilmu-ilmu sosial diorganisasikan secara sistematis dan dibangun melalui penyelidikan ilmiah dan penelitian yang sudah direncanakan, sedangkan IPS terdiri atas bahan pilihan yang sudah disederhanakan dan diorganisasikan secara psikologis dan ilmiah untuk kepentingan tujuan pendidikan. Lebih jelasnya Somantri ( 2001) mendefinisikan pendidikan IPS sebagai berikut : ”suatu penyederhanaan disiplin atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial, psikologis, filsafat, ideologi negara dan agama yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan” ( Somantri, 2001:44).
Puskur ( 2007 ) mengartikan IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). (www.puskur.net ). Konsep IPS di atas sejalan dengan rumusan tentang studi sosial dari National Council for the Social Study.
NCSS defines social studies as “the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence.” Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Talk:National_Council_for_the_Social_Studies)
IPS merupakan kajian antar disiplin ilmu yaitu ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dan diarahkan pada peningkatan kemampuan sebagai warganegara . IPS sebagai program sekolah mengadakan kajian terpadu dan sistematis yang mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu seperti antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, agama, dan sosiologi serta ilmu-ilmu kemanusiaan, matematika dan ilmu kealaman.
Sehubungan dengan kepentingan program pengajaran di sekolah Charles R.Keller dalam Sapriya et al. (2006:6) mengartikan IPS sebagai berikut :
Suatu paduan daripada sejumlah ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya yang tidak terikat oleh ketentuan disiplin/struktur ilmu tertentu melainkan bertautan dengan kegiatan-kegiatan pendidikan yang berencana dan sistematik untuk kepentingan program pengajaran sekolah dengan tujuan memperbaiki, mengembangkan dan memajukan hubungan-hubungan kemanusiaan-kemasyarakatan.

Berdasarkan rumusan dan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa IPS mengkaji fenomena, perkembangan, kebutuhan, isu, dan masalah-masalah sosial dari kajian berbagai bidang ilmu, baik ilmu sosial, humaniora maupun sain. Oleh karena itu IPS merupakan kajian yang bersifat interdisipliner karena menggunakan dan menghubungkan tinjauan berbagai ilmu, terpadu karena isu dan masalah yang dikajinya dihubungkan, dipadukan antara satu masalah dengan yang lainnya.

Nah begitu sobat kalau kurang jelas kirim komentar yaa….

CONTOH JURNAL PTK YANG DITERBITKAN 1

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
DALAM MATA PELAJARAN IPS – GEOGRAFI
MELALUI TIM PETA TONY BUZAN
DI KELAS 8 D SMP NEGERI 14 KOTA SERANG
( CLASSROOM ACTION RESSEARCH CTL)
Oleh : Deni Sopari, M.Pd

Abstrak : Rendahnya motivasi belajar merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh para pengajar, kecendrungan siswa menampakkan kurang bergairah , kurang bersemangat, kurang siap dalam menghadapi pembelajaran dan pasif dalam menerima pelajaran . Kondisi ini tejadi juga dalam mata pelajaran IPS khususnya IPS- Geografi yang kecenderungan banyak materi hapalan yang membuat siswa menjadi jenuh. Padahal mata pelajaran ini menuntut motivasi tinggi dari siswa untuk mampu menghubungkan satu konsep dengan konsep lain sehingga muncul kebermaknaan dari konsep tersebut. Rendahnya motivasi belajar siswa ini berpengaruh juga terhadap rendahnya hasil belajar.
Melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) Kondisi ini dicoba dirobah dengan menerapkan pembelajaran model Peta Pikiran Tony Buzan yang dilakukan dalam dua siklus dengan mengambil subjek kelas 8 D.
Hasil penelitian menunjukkan bahawa dengan menggunakan model Tim Peta Pikiran Tony Buzan ini terjadi peningkatan motivasi belajar terlihat dari peningkatan siswa dengan motivasi tinggi dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18 % . Dilihat dari hasil belajar penggunaan model ini juga terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dari rata-rata 61,25 menjadi 72,27.

Kata-kata kunci : Motivasi belajar , tim peta pikiran Tony Buzan

Menurut sofyan ( 2003 : 158 ) motivasi siswa adalah suatu proses yang dilakukan untuk menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan . Hal tersebut sejalan dengan pendapat Nasution ( : 1981 ) bahwa motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga siswa itu mau dan mampu melakukan sesuatu . Dengan kondisi-kondisi tersebut akan memunculkan suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan ( Jamaras : 2002 :114 ). Perasan dan reaksi untuk mencapai tujuan ini akan mendorong siswa untuk melakukan sesuatu termasuk belajar yang dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan , antara lain kebutuhan berprestasi yaitu hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau efesiensi dalam memecahkan masalah atau menguasasi latihan yang sulit Apabila dihubungkan dengan kegiatan belajar, siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar dalam arti kata belajar akan optimal kalau ada motivasi .
Brown dalam Zubaidah ( 2004 ) Ciri-ciri siswa yang mempunyai ciri motivasi belajar tinggi , dapat dikenali selama mengikuti proses pembelajaran , yaitu sebagai berikut : ( 1 ) Tertarik kepada guru, artinya tidak acuh tak acuh kepada guru, ( 2 ) tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan, (3) antusias tinggi , serta mengendalikan perhatian dan energinya kepada kegiatan belajar, (4) ingin selalu tergabung dalam dalam suatu kelompok kelas, ( 5 ) ingin identitas diri diakui orang lain, (6) tindakan dan kebiasaan selalu terkontrol dalam lingkungan.nya.
Dengan melihat pernyataan diatas motivasi belajar adalah suatu upaya yang dikondisikan oleh guru dalam menyediakan kondisi kondisi tertentu sehingga siswa terdorong untuk mencapai tujuan belajar yang telah dirumuskan sebelumnya.
Rendahnya motivasi belajar siswa telah lama menjadi bahan pemikiran para guru di lingkungan SMP negeri 6 Serang terutama bagi guru IPS . Pada umumnya siswa menampakkan kurang bergairah , kurang bersemangat dan kurang siap dalam mengikuti pelajaran. Ketidaksiapan siswa tersebut akan mempengaruhi terhadap proses pembelajaran suasana menjadi kurang aktif , interaksi antar guru dengan siswa sangat kurang, apalagi antar siswa dan siswa , siswa cenderung pasif , hanya menerima saja apa yang diberikan oleh guru. Lebih jauh lagi kondisi ini berpengaruh terhadap hasil kognetif, afektif maupun psikomotor siswa , hal ini didukung dari hasil observasi penulis di kelas 8 D kurang bertanggungjawabnya siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, sekitar 35 % siswa mempunyai nilai tugas yang rendah, 5 % tidak mengerjakan tugas dengan berbagai alasan, seringnya keluar kelas dengan berbagai alasan, , lebih dari 20 % siswa mengantuk pada saat pembelajaran berlangsung, Rendahnya motivasi siswa juga tercermin dari respon dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran . Berdasarkan hasil pengamatan kurang dari 5% siswa yang berani tunjuk jari untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, dan kurang dari 2 % siswa berani tunjuk jari mengajukan pertanyaan kepada guru. Kondisi ini ternyata berpengaruh terhadap hasil ulangan harian siswa hanya mencapai rerata 51,7 saja. Sedangkan kriteria ketuntasan mata pelajaran IPS di SMP 6 Serang ditetapkan 65,00.

Kemungkinan rendahnya motivasi siswa disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah model pembejaran yang kurang mendukung dalam setting kelas yang mampu membangkitkan motivasi siswa untuk aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Hak ini sejalan dengan pendapat Nasution ( 1986: 76) bahwa motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau dan ingin melakasanakan sesuatu. Dilain pihak karakter peajaran IPS khususnya kajian geografi kecenderungan mengkaji keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya.
Peta pikiran adalah teknik pemamfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainya untuk membentuk kesan. Model peta pikiran ini dikembangkan oleh penemunya Tony Buzan pada tahun 1970 –an didasarkan kepada riset tentang bagaimana cara kerja otak sebenarnya. Otak sering kali mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara , bentuk-bentuk dan perasaan ( de Potter : 2001:153) . Berbeda dengan penggunaan peta konsep lainnya seperti halnya model berpikir lateral dengan peta konsepnya Edwar de Bono ( Bachman 2005: 88 ) Peta pikiran ala Tony Buzan ini menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan , seperti peta jalan untuk belajar , mengorganisasikan dan merencanakan, sehingga dengan menggunakan peta pikiran ini akan membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Pikiran tidak akan mandeg karena mengulangi catatan tersebut dibuat dalam peta pikiran. Dan yang jelas model peta pikiran ini akan menumbuhkan suasana menenangkan, menyenangkan, dan kreatif karena siswa bebas menuangkan kreatifitasnya berdasarkan modalitasnya masing-masing tanpa ada paksaan.
Keberhasilan penggunaan model peta pikiran ini digambarkan oleh Bachman ( 2005 : 78 ) tentang ceritra Edward Hughes seorang siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata yang tidak mempunyai nilai istimewa sama sekali nyatanya, setelah diajari peta pikiran dari Tony Buzan oleh ayahnya dan kemudian dia selalu mendapat nilai A dalam pelajarannya, masuk Canbridge University , lulus dengan hasil yang sangat memuaskan dan ditawari pekerjaan yang penuh gengsi sebagai pemikir strategis dalam sebuah perusahan multi nasional.
Penggunaan model peta pikiran dalam pembelajaran sangat membantu kelancaran proses pembelajaran bagi siswa seperti yang diungkapkan oleh Silberment ( 2004 : 59 ) Pemetaan pikiran merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari , atau merencanakan tugas baru. Meminta siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau apa yang tengah mereka rencanakan. Sejalan dengan pendapat Siberment , Susilo dalam Zubaidah ( 2004) mengungkapkan bahwa peta pikiran membantu siswa aktif berfikir untuk memusatkan pada sejumlah ide pokok ( berupa konsep-konsep) dari suatu pokok bahasan , yang secar rinci penggunaan peta konsep bagi siswa adalah : (1) mengeksplorasi apa yang telah di ketahui oleh sipembelajar, (2) memberikan arah pembelajaran. ( 3) membantu mengekstraksi arti kerja laboratorium atau studi lapangan. (4) membantu membaca materi dari buku pelajaran , (5) membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang berkualitas tinggi serta bermakna, karena membantu siswa mengingat informasi dan melihat keterkaitan antar konsep dan ( 6 ) membantu siswa menggabungkan ide yang satu dengan lainnya.
Peta pikiran ini bersifat idiosinkratik atrinya kebermaknaan konsep-konsep itu khas termasuk bentuk visual yang menandai tiap konsep . Tidak ada peta pikiran yang sama persis karena setiap peta pikiran yang dibuat oleh seseorang menunjukkan pengertiannya yang unik dalam bidang pengetahuan tertentu ( Susilo : 1988 ). Prosedur model peta pikiran dimulai dengan membuat sentra gambar , yang menggambarkan Topik atau gagasan utamanya, selanjutnya topik tersebut dipecah menjadi unsur-unsur yang lebih kecil dan menggambarkan unsur-unsur di sekeliling peta pikirian. Setiap gagasan ditampilkan dengan gambar dengan menyertakan sedikit mungkin kata-kata atau kata kuncinya saja . Setiap percabangan dan visual gambar usahakan menggunakan warna yang berbeda.
Untuk kepentingan penelitian ini peneliti mencoba menyatukan sifat idiokratik ini dalam satu Tim, pembuatan tim ini dimaksudkan untuk melatih kerjasama siswa di dalam menyatukan ide-ide kreatif baik dalam penyebaran konsep maupun pembuatan simbol visual tiap konsep yang didapat. Dilain pihak pembuatan tim ini untuk membantu siswa yang kemampuannya kurang sehingga bisa dibantu oleh siswa mempunyai kemampuan lebih. Akhir dari kegiatan tim ini diharapkan menjadi bekal bagi anggota kelompoknya mendapatkan pengertian yang sama tentang pembuatan model peta pikiran Tony Buzan.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa kelas 8 D SMP Negeri 14 Kota Serang dengan mengabil pokok bahasan mengenai perubahan musim di Indonesia dan persebaran flora dan fauna di Indonesia.pada semester 1.
Diharapkan penelitian ini bisa berguna bagi siswa, guru dan Sekolah . Bagi siswa , peta pikiran Tony merupakan salah satu cara untuk membiasakan diri untuk memiliki pengetahuan awal suatu konsep sebelum mempejari konsep baru, dan mampu meningkatkan motivasi dalam mempelajari pelajaran IPS – geografi yang akhirnya mampu meningkatkan prestasi belajar . Bagi guru Peta pikiran Tony Buzan merupakan salah satu alternatif alat proses pembelajaran untuk membantu siswa meningkatkan motivasi belajar IPS- Geografi. Bagi sekolah :Meningkatkan prestasi sekolah dengan meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa serta meningkatkan kemampuan guru dalam mengatasi permasalahan- permasalahan pembelajaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 14 Kota Serang untuk mata pelajaran IPS-Geografi . Sebagai Subyek penelitian adalah siswa kelas 8 ( delapan ) D yang terdiri dari 44 siswa yaitu 24 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan . Melibatkan 1 guru IPS kelas 1 sebagai kolaborator. Kelas ini sebagai miniatur dari kondisi trasnsisi budaya antara pedesaan dan perkotaan. Rancangan penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Ressearch ) Penelitian terdiri atas dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2007 dan siklus ke dua tanggal 4 Agustus 2007 . Masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan ( planning ), pelaksanaan ( Acting ), pengamatan ( Observating ) dan tindak lanjut ( Reflecting ). Secara umum alur pelaksanaan tindakan kelas ini digambarkan oleh Kurt Lewis ((http://www.ditplb.or.id/new/index.php?menu=profile&pro=3 ).S

1.Hasil Penelitian dan Pembahasan.
Siklus ke satu :
Setelah dilakukan tindakan-tindakan pada siklus 1, terdapat perubahan, yaitu motivasi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum dilakukan penelitian . Hal ini terlihat saat proses pembelajaran berlangsung misalnya pada saat presentase peneliti menunjuk salah seorang siswa dari perwakilan kelompok untuk menuliskan hasil peta pikiran kelompoknya di papan tulis dan hasilnya ditanggapi oleh kelompok lain, 5 kelompok dari 9 kelompok berpartisipasi dalam penyempurnaan peta pikiran yang dibuat oleh kelompok ; ada yang menambahkan cabang konsep baru, membuat icon/label/gambar pada tiap konsep bahkan ada yang menyanggah alur konsep. Kondisi tersebut di dukung dari hasil monitoring penilaian proses, dari hasil monitoring penilaian proses yang digunakan sebagai indikator motivasi siswa didapat hasil siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam pembelajaran dengan menggunakan mode Tim peta pikiran Tony Buzan sebesar 40 % , siswa yang memiliki motivasi belajar tergolong sedang sebesar 40 % , sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah 20 %. Kadaan yang menonjol adalah berkurangnya ; siswa yang ngantuk, tidak mengerjakan tugas, keluar kelas dengan berbagai alasan hal ini terjadi karena setiap siswa dituntut oleh kelompoknya untuk berperan dalam diskusi .
Kondisi yang kondusif mendukung timbulnya keinginan siswa untuk mau dan mampu mencapai tujuan, ternyata terbukti dari hasil siklus pertama ini walaupun perubahan tidak terlalu mencolok hal ini terlihat dari meningkatnya hasil perolehan ulangan siswa setelah proses siklus berakhir. Sebagai pembanding nilai peneliti mengambil nilai harian pertama dari pokok bahasan keadaan geografis Indonesia yang pembelajarannya tidak menggunakan model tim peta pikiran Tony Buzan.
Hasil terlihat pada perbandingan rerata nilai sebelum tindakan 51,6 memjadi 61,7 setelah tindakan pada siklus 1

Pada akhir silus 1 di minta memberikan pendapatnya tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta pikiran Toni Buzan ini diketahui bahwa sebagian siswa senang dengan model pembelajaran peta pikiran Toni Buzan, hal ini terlihat persente pilihan setuju untuk item ; lebih mudah belajarnya dan lebih mudah mengerti, lebih praktis dan lebih singkat, lebih mudah dihapal, tidak banyak memakan waktu, menghemat buku tulis dan penjelasan lebih kuat dan jelas menduduki presentase di atas 35 %. Sedangkan sebagian siswa masih merasa kesulitan dalam membagi bagan,menghubungkan antar konsep membuat label/icon/gambar tiap konsep. Kenyataan ini memang terlihat dari produk peta pikiran beberapa kelompok masih sederhana , hubungan konsep dengan konsep lain masih kurang, dan sebagian besar belum ada label. Kekurangan ini di minimalisir pada saat presentase kelompok dengan tambahan komentar dari peneliti, kondisi lain masih ada kelompok yang sulit membagi tugas masih ada siswa dalam kelompok hanya sebagai pendengar setia saja, dilain fihak suasana ribut Kekurangan-kekurangan tersebut dicari alternatif pemecahannya. Alternatif tersebut digunakan dalam persiapan tindakan siklus ke dua.
Berdasarkan hasil analisis data dan pemantauan ditemukan beberapa aspek keberhasilan, terdapat perubahan, yaitu motivasi belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan sebelum pembelajaran dengan menggunakan model tim peta pikiran Toni Buzan . Peningkatan motivasi ini terlihat pada saat kegiatan presentase kelompok, dan tanggapan terhadap hasil presentase, 5 dari 9 kelomopok aktif dalam menyempurnakan peta pikiran yang ditampilkan di papan tulis, siswa yang ngantuk mulai berkurang dan siswa yang keluar kelas selama pembelajaran suda tidak ada,. Dilihat dari hasil belajar juga tejadi peningkatan walau tidak terlalu signifikan, yaitu dari 4,5 ke 6,1. Kondisi umum pada siklus 1 ini siswa merasa senang terlihat dari hasil jajak pendapat pembelajaran dengan menggunakan peta pikiran Tony Buzan ini lebih menyenangkan dengan persentase 84 %.
Sedangkan kelemahan-kelemahan yang perlu di rencanakan kembali pada siklus berikutnya , yaitu : ( 1 ) siswa dengan motivasi belajar tinggi baru sebesar 40 % berarti belum sesuai dengan indikator penelitian, ( 2). Pada pembuatan kelompok masih terlihat ramai dan kacau, (3). Aktitivitas siswa dalam menanggapi presentasi masih kurang, masih ada siswa yang tidak mau melibatkan diri dalam diskusi. ( 4 ) Pada saat presentase di depan kelas beberapa siswa masih kelihatan canggung, takut dan malu, ( 5 ) waktu sebagian besar tealokasikan untuk diskusi sehingga terjadi kekurangan waktu untuk presentase dan tanggapan. ( 6 ). Hasil peta pikiran yang dibuat kelompok masih sederhana terlihat dari kurang sempurnanya penemuan konsep-konsep dalam peta pikiran, simbol/icon dan label masih kurang.
Siklus ke dua
Rata-rata motivasi siswa dalam pembelajaran pada siklus 2 ada peningkatan ini ditandai dengan adanya :
Pada siklus ke dua diketahui ternyata hampir seluruh kelompok sudah dapat membuat peta pikiran Tony Buzan dengan baik. Hal ini terlihat dari hirarki pemikiran dalam menyusun konsep rata-rata sudah benar, kelengkapan konsep yang harus ada dan simbol/icon/ gambar sudah mulai mucul. Kondisi ini merupakan refleksi dari kesiapan siswa sebelum mengikuti pelajaran , hal ini dibuktikan dengan masuknya semua tugas peta pikiran secara individu yang ditugaskan pada siklus pertama. Beberapa tugas ditampilkan dengan tujuan untuk memotivasi kegiatan dan memberikan penghargaan kepada siswa yang membuat peta pikiran yang dikatogorikan baik dan benar. Kegiatan diskusi pada siklus II lebih hidup karena setiap anggota sudah mulai mengerti pembuatan peta pikiran Tony Buzan ini sehingga mereka aktif memberikan masukan baik dalam pemetaan konsep maupun pemberian label/gambar/icon tiap konsep. Keberanian siswa mulai muncul ketika guru meminta kelompok mana yang mau mempresentasekan hasil diskusinya, hampir semua kelompok mengacungkan tangan. . Pada saat sesi tanggapan presentase partisipsi kelompok lain baik dalam penambahan konsep , pembuatan label/icon/gambar Untuk memantapkan pemahaman terhadap peta pikiran yang telah dibuat di tunjuk salah seorang untuk menjelaskan alur berpikir dari peta konsep yang tertera di papan tulis , hasilnya cukup menggembirakan dengan hanya dibantu peta pikiran itu siswa tersebut dapat menjelaskan materi yang didiskusikan. Kondisi ini didukung dari hasil monitoring penilaian proses terlihat sebesar 58 % naik 18 %, siswa yang memiliki motivasi belajar tergolong sedang sebesar 30 % turun , 10% sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah 12 % turun 8%. Siswa yang ngantuk dan minta izin keluar sudah tidak ada.
Dilihat dari hasil test setelah proses pembelajaran berlangsung, terlihat adanyan peningkatan skor dibandingkan dengan siklus ke-1 hal ini terlihat pada rerata pendapatan skor siswa pada akhir siklus ke-2 yaitu dari 61,25 menjadi 72,27

Berdasarkan analisis pada diklus 2 didapatkan kemajuan-kemajuan diantaranya; produk peta pikiran tiap kelompok rata-rata sudah baik, aktifitas siswa meningkat hal ini didukung salah satunya oleh faktor kesiapan siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Kegiatan diskusi lebih kondusif dimana setiap peserta terlihat sudah berusaha memberikan masukan dalam kelompoknya. Kegiatan sesi tanggapan lebih aktif dibandingkan pada siklus pertama. Kondisi-kondisi tersebut menandakan adanya peningkatan motivasi siswa dalam pembelajaran. Hal ini didukung dari hasil pengamatan terjadi peningkatan siswa yang memiliki motivasi tinggi sebesar 18 % dan menurunnya siswa yang memiliki motivasi rendah sebesar 8 % .
Dalam peningkatan hasil belajar pada siklus kedua juga memperihatkan peningkatan ini terlihat dari skor akhir kegiatan siklus 2 yang lebih besar dari siklus 1 ,yaitu dari rerata 61,25 menjadi 72,72.
Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan baik dari kolaborator, angket siswa hasil monitoring nilai proses siswa dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran Tim Peta Pikiran Tony Buzan dapat meningkatkan motivasi belajar IPS-Geografi . Masalah yang ada pada saat kegiatan pembelajaran IPS-Geografi yaitu siswa menampakan kurang bersemangat dan kurang siap dalam menghadapi pelajaran sudah dapat diubah. Dengan diterapkannya model pembelajaran IPS-Geografi dengan menggunakan mode tim peta pikiran Tony Buzan. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa .
Dari hasil pengamatan pada siklus ke-1 peta pikiran yang dibuat siswa masih terlihat sederhana, sebagian besar belum memberikan icon/gambar/label pada konsep-konsep yang dipetakan padalah ini merupakan ciri khas dari peta pikiran Tony Buzan yang berfungsi sebagai alat untuk membantu mengingat konsep tersebut. Hirarki pemetaan peta pikiran masih terbatas belum mencakup konsep-konsep yang ada dalam materi yang di diskusikan. Kondisi ini pada siklus ke dua berubah hampir seluruh peta pikiran yang dibuat kelompok sudah memadai. Aktivits siswa yang terekam dalam monitoring penilaian proser sebagai salah satu indikator untuk menilai motivasi siswa juga mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, ini ditandai dengan meningkatnya presentase siswa yang mempunyai motivasi tinggi sebesar dari 40 % ke 58 % dan berkuangnya kelompok siswa yang memiliki motivasi rendah dari
Perlu diperhatikan untuk menguji pemahaman peta pikiran yang dibuat siswa hendaknya guru menugaskan siswa menuliskan dengan kata-katnya sendiri alur pikiran yang ada dalam peta pikiran yang dibuatnya hal ini lama kelamaan siswa akan mampu mengiteprestasikan peta pikirannya secara langsung. Sedang kan untuk mengembangkan peta pikiran siswa perlu dilatih untuk membuat peta pikiran yang lebih luas yang lebih banyak mengandung konsep
Keberhasilan dalam pencapai tujuan pembelajaran ternyat sangat di pengaruhi oleh kemampua seorang guru di dalam menciptakan kondisi-kondis yang mampu menggerakkan siswa agar perilaku siswa dapat diarahkan pada upaya-upaya nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Penciptaan kondisi-kondisi yang mendukung terhadap pencapai tujuan salah satunya adalah sajauhman seorang pendidik mampu menampilkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkannya.
Pelajaran IPS khususnya IPS – Geografi dilihat dari karakter materinya merupakan salah satu mata pelajaran kecenderungan mengkaji keterkaitan konsep baik antar konsep maupun dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa sehingga muncul kebermaknaan konsep tersebut bagi siswa. Karakter ini akan hilang apabila tidak didukung oleh pendekatan yang mampu mendorong motivasi siswa untuk mengaitkan antar konsep , yang muncul adalah hapalan-hapalan yang kehilangan maknanya.
Peta pikiran Toni Buzan memberikan alternatif bagaimana seorang pembelajar menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola /konsep maupun ide-ide yang berkaitan , seperti peta jalan untuk belajar , mengorganisasikan dan merencanakan, sehingga dengan menggunakan peta pikiran ini akan membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Pikiran tidak akan mandeg karena mengulangi catatan tersebut dibuat dalam peta pikiran. Dan yang jelas model peta pikiran ini akan menumbuhkan kesenangan dan ketenangan bagi siswa.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilaksanakan di kelas 8 D maka dapat disimpulkan bahwa :
1.Penggunaan Model Tim Peta Pikiran Tony Buzan bisa meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran IPS-Geografi . Hal ini terlihat dari hasil monitoring penilaian proses sebagai salah satu indikator motivasi siswa menunjukkan dengan meningkatnya katagori motivasi tinggi dari siklus 1 sebesar 40 % menjadi 58 % pada siklus 2.
2.Penggunaan model Tim Peta Pikiran Tony Buzan dalam pembelaran IPS-Geografi dapat meningkatkan prestasi siswa hal ini terlihat dari meningkatnyan hasil belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 yakni dari rerata 61,25 jadi 72,27

Saran
1.Dalam penggunaan model Pembelajaran Tim Peta Pikiran Toni Buzan perlu memperhatikan modalitas siswa, sebab tidak setiap siswa memiliki modalitas visual yang merupakan ciri khas dari model ini
2.Model pembelajarn Tim Peta Pikiran Tony Buzan ini bisa diterapkan pada pelajaran lain khususnya rumpun IPS ( Sejarah dan Ekonomi ).

*) Diterbitkan pada Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bachman, Edmund, Phd, 2005, Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif, Jakarta : Prestasi Pustaka.
2. De Porter,Debbi, 2001, Quantum Learning, Bandung : Kaifa.
3. Hasan, Hamid, 1995, Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta : DIKTI Program Peningkatan Mutu Akademik.
4. Jamarah, Syaiful, 2002, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta.
5. Maryati, Enok, 2006, Manusia Sebagai Mahluk Sosial dan Kajian Ilmu Pengetahuan Sosial, ( Makalah disampaikan dalam pelatihan guru IPS se Indonesia ) , Bandung
6. Nasution.S, Prof, DR, MA, 1989, Didaktik Asas Mengajar, Bandung : Jammars.
7. Sopyan, Hermanto, 2002, Teori Motivasi dan Aplikasinya dalam Penelitian, Yogyakarta : Nurul Zannah.
8. Sudjana, Nana, 2000, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung : Remaja Rosda Karya.
9. Silberman, Melvin.L, 2004, Active Learning, Bandung: Nusa Media.
10. Susilo, Herawati, 1999, Peta Konsep : Alat Pembelajaran yang penting dalam pembelajaran Sains dengan Pilosofis Konstrutivisme, Makalah pelatihan guru Malang.
11. Zubaidah, M.Pd, 2004, Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Laboratorium UNM ( Laporan PTK ), Malang.
12 ……………, 2007 .Model-Model Penelitian Tindakan Kelas , Direktorat Pembinaan SLB , Ditjen Pendasmen. (http://www.ditplb.or.id/new/index.php?menu=profile&pro=3